Anomali Pasar, Rupiah Tembus Rp17.960 di Tengah Melemahnya Indeks Dolar AS
![]() |
| Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.960/US$ usai kabar pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. |
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan anomali pada awal pekan ini dengan mencatatkan pelemahan di saat indeks dolar AS (DXY) sedang lesu. Pembukaan perdagangan Senin (27/7/2026) mencatat posisi rupiah berada di Rp17.960 per dolar AS, terdepresiasi 0,14 persen. Padahal pada pukul 09.00 WIB, indeks DXY terkoreksi 0,3 persen ke level 101,164, mengindikasikan bahwa tekanan berat terhadap mata uang Garuda murni berasal dari sentimen domestik.
Penyebab utama gejolak pasar ini adalah keputusan Perry Warjiyo yang mundur secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Sabtu (25/7/2026). Pengunduran diri karena alasan pribadi yang diajukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto ini mengejutkan banyak pihak. Hal ini lantaran Perry baru saja memimpin Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026 yang mempertahankan suku bunga acuan di angka 5,75 persen.
Menghindari kepanikan pasar yang lebih luas, Dewan Gubernur BI langsung merespons dengan menggelar rapat darurat pada Minggu (26/7/2026). Rapat tersebut menetapkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur BI Sementara sesuai dengan amanat Pasal 50 ayat (2) UU BI. Transisi kepemimpinan ini dipastikan tidak akan mengubah arah komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
"Bank Indonesia akan selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," urainya mencoba meredam spekulasi liar di pasar keuangan.
Di tingkat global, stabilitas mulai terlihat setelah Amerika Serikat menahan serangan udara ke Iran, yang berdampak pada penurunan harga minyak dan kembalinya kepercayaan investor. Kendati demikian, pasar masih bersikap menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat dalam pertemuan The Fed yang berakhir Rabu (29/7/2026). Kalkulasi CME FedWatch Tool menunjukkan terdapat peluang sebesar 36,3 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin, yang nantinya akan sangat menentukan laju rupiah ke depan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Keuangan |











