Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
10 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
6 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
6 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Keuangan

Dampak Fundamental Industri, Analis Bedah Utang Jumbo Pabrik Udang Milik Kaesang di Situbondo

Dampak Fundamental Industri, Analis Bedah Utang Jumbo Pabrik Udang Milik Kaesang di Situbondo
Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep dan istri, Erina Gudono. (foto: instagram @erinagudono)
Selasa, 07 Juli 2026 07:00 WIB

JAKARTA - PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan udang olahan ekspor milik Kaesang Pangarep tengah menghadapi badai keuangan. Utang yang sangat besar menyebabkan nilai aset perusahaan putra bungsu eks Presiden Jokowi ini berada di bawah kewajiban finansialnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai jebloknya kinerja perusahaan ini bukan serta merta kelalaian perbankan dalam menjaga batas kehati-hatian pemberian dana.

"Kasus ini lebih mencerminkan realisasi risiko kredit (credit risk materialization), akibat memburuknya kondisi fundamental perusahaan (PMMP) dan industrinya," papar Nafan di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Gunungan Utang Triliunan Rupiah

Secara total, utang perusahaan ini kepada konsorsium bank dan lembaga pembiayaan menyentuh angka Rp2,8 triliun, belum termasuk hitungan bunga kredit. Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (6/7/2027), ini rincian paparan utang dari perusahaan suami Erina Sofia Gudono tersebut:

  • * PT Bank Permata Tbk (BNLI): Mencatatkan eksposur tertinggi sebesar US$53,12 juta dan Rp5,49 miliar. Dengan kurs Rp17.500 per dolar AS, nilai total menembus Rp929,6 miliar ditambah Rp5,49 miliar (hampir Rp1 triliun).
  • * PT Bank Central Asia Tbk (BCA): Menempati posisi kedua dengan utang US$40,29 juta atau setara Rp705 miliar.
  • * Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI): Memiliki eksposur sebesar US$30,71 juta (sekitar Rp537,4 miliar).
  • * PT Bank SMBC Indonesia Tbk: Emiten yang dikuasai Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) memberikan fasilitas US$22,80 juta, setara Rp400 miliar.
  • * PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS): Bank yang dikuasai Kasikornbank (Thailand) menyalurkan kredit US$7,21 juta atau setara Rp125,2 miliar.
  • * PT Bank Resona Perdania: Terkena dampak dengan utang US$5,99 juta yang setara Rp105 miliar.

Pentingnya Sistem Peringatan Dini

Nafan menyebut sindikasi dari berbagai bank adalah hal lazim. Sebelum pencairan, proses due diligence, analisis kelayakan usaha, penilaian agunan, serta stress test dipastikan sudah berjalan. Masalahnya, sektor perikanan memang sedang dihantam krisis permintaan ekspor, pelemahan harga, dan lonjakan ongkos operasional.

"Yang perlu dipahami, kualitas suatu kredit dapat berubah seiring perubahan fundamental perusahaan maupun kondisi industri," ujar Nafan.

"Namun demikian, kasus ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi industri perbankan untuk terus memperkuat pemantauan pasca-kredit (post-disbursement monitoring), sistem peringatan dini (early warning system), serta pengujian sensitivitas terhadap sektor-sektor yang memiliki volatilitas tinggi," lanjutnya.

Melihat kondisi perbankan yang terseret dalam utang triliunan ini, perbankan diwajibkan menyusun ulang strategi penanganan aset.

"Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana masing-masing bank mengelola risiko lanjutan, antara lain melalui restrukturisasi apabila masih layak, peningkatan pencadangan, optimalisasi pemulihan aset, serta memastikan eksposur terhadap debitur tersebut tetap berada dalam batas yang dapat ditoleransi sehingga tidak mengganggu kualitas aset maupun permodalan bank," rincinya.

Saat ini tekanan PMMP membatasi kegiatan produksinya. Hanya unit pabrik udang di Situbondo yang masih beroperasi. Bahkan, demi menjaga napas bisnis tetap normal, dibutuhkan tambahan suntikan modal kerja minimal US$15 juta setara Rp262,5 miliar. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Keuangan
wwwwww