Krisis Lapangan Kerja Berkualitas, Ekonomi Nasional Terancam Rapuh Akibat Ketimpangan Pendapatan
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA – Kondisi ekonomi domestik Indonesia mulai menunjukkan sinyal kerapuhan yang mengkhawatirkan. Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, memperingatkan bahwa tanpa penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pemerataan pendapatan, keberlanjutan ekonomi nasional berada dalam pertaruhan besar.
Sandy Pramuji mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi soal ketiadaan konsumsi, melainkan pendapatan yang tidak merata serta sulitnya mencari pekerjaan. Hal ini memicu masyarakat untuk semakin berhati-hati dalam berbelanja demi menjaga keamanan finansial di masa depan.
"Tanpa penguatan kedua fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya," ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Data menunjukkan upah riil pekerja mulai tertekan sejak paruh kedua tahun lalu. Pada Agustus 2025, kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen, sementara inflasi melonjak hingga 2,32 persen. Akibatnya, daya beli masyarakat terkontraksi sekitar 0,37 persen karena kenaikan pendapatan tidak mampu mengimbangi lonjakan harga kebutuhan pokok.
Kondisi ini diperparah oleh anjloknya penyerapan tenaga kerja. Per Agustus 2025, ekonomi nasional hanya mampu menyerap 1,89 juta orang, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,79 juta orang. Penurunan tajam ini menjadi peringatan dini bahwa mesin pertumbuhan ekonomi gagal menghasilkan dampak kesejahteraan yang inklusif.
Ketimpangan semakin nyata terlihat pada struktur tabungan rumah tangga. Meski secara total simpanan di bank tumbuh 12,1 persen pada November 2025, peningkatan ini didominasi oleh kelompok elite dengan saldo di atas Rp1 miliar.
Sebaliknya, rakyat kecil justru mengalami fenomena "makan tabungan". Rata-rata saldo rekening di bawah Rp100 juta menyusut dari Rp2 juta menjadi hanya sekitar Rp1,7 juta.
"Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi," imbuh Sandy Pramuji.
Fluktuasi Indeks Penghasilan Saat Ini yang sempat merosot ke level 112,9 pada September 2025 menunjukkan bahwa stabilitas dapur masyarakat sedang terguncang. Pemerintah kini dituntut untuk segera membenahi sektor ketenagakerjaan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pemilik modal besar.***| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Warga Bertuah |










