Film "Tak Kenal Maka Ta’aruf" Hadirkan Romansa Religi Segar, Debut Toma Margens di Kursi Sutradara
![]() |
| Toma Margens, Sutradara. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
Berbeda dari kebanyakan film romansa remaja yang menonjolkan kebebasan pergaulan, “Tak Kenal Maka Ta’aruf” justru menyuguhkan narasi tentang pencarian cinta yang berlandaskan prinsip agama dan kehormatan diri. Toma Margens dengan berani mengangkat tema ta’aruf - proses perkenalan tanpa pacaran - sebagai poros cerita, dikemas ringan dan modern agar tetap relevan bagi penonton muda.
“Kami ingin menghadirkan film yang bukan sekadar hiburan, tapi juga punya nilai dan arah. ‘Tak Kenal Maka Ta’aruf’ adalah upaya menghadirkan tontonan yang sehat di tengah derasnya arus film percintaan yang cenderung permisif,” ujar Toma Margens dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Film ini dibintangi Sadkia Chadwick, Fadi Alaydrus, dan Dinda Mahira. Mereka memerankan tokoh-tokoh muda yang mewakili tiga sudut pandang berbeda tentang cinta: religius, realistis, dan liberal. Kisahnya berpusat pada Zoya (Sadkia Chadwick), mahasiswi kedokteran yang teguh berprinsip dan menolak pacaran, karena trauma keluarga membuatnya menderita philophobia, rasa takut jatuh cinta.
Konflik mulai muncul saat Zoya dipertemukan dengan Faris (Fadi Alaydrus), mahasiswa kelautan yang tampan dan berjiwa bebas, serta Cleopatra (Dinda Mahira), mahasiswi metropolis yang agresif dalam mengejar cinta. Dari titik ini, film menelusuri benturan antara hati, keyakinan, dan realita sosial remaja masa kini.
Toma Margens menekankan bahwa film ini tidak bermaksud menggurui, melainkan menyampaikan nilai dengan pendekatan emosional. “Kami sadar, generasi muda sekarang ingin cerita yang jujur, dekat dengan kehidupan mereka. Karena itu, film ini mengajak penonton berpikir: apakah cinta selalu harus dimulai dari pacaran?” katanya.

Secara produksi, “Tak Kenal Maka Ta’aruf” digarap dengan tone visual lembut dan atmosfer kampus yang hangat. Sinematografi yang natural, scoring yang ringan, dan ritme dialog yang luwes membuat film ini terasa realistis dan mudah dicerna tanpa kehilangan pesan moralnya.
Executive Producer Dedy Suherman menyebut film ini sebagai bentuk kegelisahan orang tua terhadap pola pergaulan modern. “Kami ingin memberi tuntunan tanpa kesan menggurui. Pesannya sederhana: cinta yang baik dimulai dengan niat yang baik,” ungkapnya.
Penulis skenario Mim Yudiarto menambahkan, proses penulisan dilakukan dengan riset sosial yang cukup mendalam agar film tetap relevan. “Kami ingin mengangkat tema ta’aruf dengan pendekatan kekinian, supaya terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa urban,” ujarnya.
Performa Sadkia Chadwick pun mendapat banyak perhatian. Ia berhasil memerankan Zoya dengan keseimbangan antara keteguhan iman dan kerentanan hati. “Zoya ini sosok yang takut jatuh cinta, tapi cinta juga yang akhirnya menyembuhkannya. Itu inti emosional film ini,” tuturnya.
Dengan narasi yang menantang arus utama film remaja, “Tak Kenal Maka Ta’aruf” hadir sebagai romansa religi modern yang tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi juga menggugah pikiran. Film ini menjadi penanda berani bagi Toma Margens untuk memulai kiprahnya di dunia penyutradaraan dengan langkah yang matang dan bermakna. ***











