Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
3
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
18 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
21 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
18 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Nyawa Jadi Taruhan, Warga Aceh Barat Seberangi Sungai dengan Kabel Listrik

Nyawa Jadi Taruhan, Warga Aceh Barat Seberangi Sungai dengan Kabel Listrik
Warga melintasi jembatan tali yang terbuat dari kabel listrik penghubung Desa Canggai dengan Desa Keutambang Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Selasa (28/10/2025).
Rabu, 29 Oktober 2025 06:04 WIB

ACEH BARAT – Di Desa Canggai dan Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, akses antarwilayah masih jauh dari kata layak. Warga di dua desa itu setiap hari mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai menggunakan kabel listrik bekas yang dijadikan jembatan darurat.

Meski tampak berbahaya, jembatan kabel itu menjadi satu-satunya jalur tercepat untuk mencapai desa tetangga. Jika harus memutar lewat jalur darat, warga menempuh jarak antara 2,5 hingga 4 kilometer, sementara dengan meniti kabel hanya sekitar 700 meter.

Pemandangan ini menggambarkan realitas keras warga pedalaman Aceh Barat. Mereka harus bergelantungan di atas kabel licin, menyeimbangkan tubuh di antara derasnya angin dan risiko jatuh ke sungai di bawahnya. Tak jarang, anak-anak dan orang lanjut usia ikut menyeberang demi ke sekolah, berobat, atau membawa hasil kebun ke pasar.

“Sudah lama kami pakai jembatan ini. Kalau tidak lewat sini, bisa dua jam baru sampai. Tapi jujur, kami takut. Kadang kabelnya goyang, apalagi kalau habis hujan,” kata seorang warga Canggai dengan nada cemas.

Jembatan darurat dari kabel listrik ini awalnya dibuat secara swadaya oleh warga setelah jembatan lama rusak diterjang banjir beberapa tahun lalu. Karena belum ada perbaikan dari pemerintah, warga tak punya pilihan selain terus menggunakan cara berbahaya itu.

Risiko terbesar datang saat musim hujan, ketika kabel menjadi licin dan arus sungai meningkat. Beberapa warga bahkan mengaku pernah terpeleset saat melintas. Hingga kini, belum ada langkah nyata dari pihak terkait untuk membangun jembatan permanen yang aman.

Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan pembangunan di wilayah pedesaan Aceh. Di saat sebagian daerah telah menikmati infrastruktur modern, warga di pelosok masih bergantung pada inisiatif dan keberanian untuk sekadar berpindah tempat.

Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini, agar akses ekonomi dan sosial mereka tidak lagi bergantung pada seutas kabel yang bisa putus kapan saja. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww