Gempuran Dolar Rp18 Ribu, Pemerintah Kunci Pasokan Impor Lewat Sistem Barter
![]() |
| Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh) |
JAKARTA - Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor terancam guncangan hebat. Nilai tukar rupiah terus terperosok hingga menyentuh angka Rp18.042 per dolar AS berdasarkan data Google Finance, Kamis (4/6/2026).
Pelemahan ekstrem ini memaksa pemerintah mengambil langkah di luar kebiasaan moneter. Menteri Perdagangan, Budi Santoso secara terbuka mengakui telah menyiapkan skema perniagaan jalur khusus untuk menyelamatkan stabilitas harga di dalam negeri.
Siasat utama yang ditawarkan adalah perdagangan berbasis barter antarnegara, sebuah metode klasik yang dinilai paling ampuh untuk memotong dominasi dolar AS dalam transaksi bilateral.
Manuver Tukar Barang di Kancah ASEAN
Negara tetangga Filipina menjadi target utama peluncuran skema ini. Kesepakatan awal terjalin ketika perwakilan kedua negara menyadari kesamaan nasib mata uang mereka yang tengah dihajar oleh dolar AS saat bertemu di forum ASEAN.
"Waktu kemarin di acara ASEAN, kami bertemu pengusaha Filipina. Dia bilang, nilai tukar atau uang Filipina juga kurang bagus. Kemudian ditawarkan jual-beli barang dengan cara barter," urai Budi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Skema ini bukan sekadar wacana diplomasi. Kementerian Perdagangan menjadwalkan eksekusi resmi pada pertengahan bulan ini demi mempercepat masuknya pasokan alternatif.
"Nah ini sudah kita carikan pembelinya sudah ketemu, nanti tanggal 12 kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer," terangnya.
Benteng Pertahanan Ekspor dan Logistik
Meski kurs rupiah berada di posisi terendah, indikator perdagangan internasional Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan. Sektor riil diklaim mampu bertahan dari tekanan eksternal berkat performa produk lokal di pasar luar negeri.
- Kinerja Ekspor: Tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,48 persen secara tahunan.
- Kestabilan Harga: Harga kebutuhan pokok di pasar tradisional dan modern terpantau belum mengalami gejolak.
"Kondisi masih bagus, ekspor kita tetap naik 5,48 persen," tandasnya.
Fokus pemerintah saat ini beralih pada pengamanan komoditas yang tidak bisa diproduksi penuh di dalam negeri. Bahan baku krusial seperti pupuk, kedelai, dan suku cadang menjadi prioritas pengawasan agar tidak terjadi kelangkaan di tingkat distributor.
"Dari importasi bahan baku, kita selalu monitor. Dan, kita terus komunikasi dengan para produsen jangan sampai ada yang terganggu. Gitu, kan. Jangan sampai stok enggak ada," pungkasnya. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Pasar & Niaga |











