Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
16 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
20 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
16 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Tenda Pengungsi Jadi Lokasi Rawan Pelecehan, Perempuan Aceh Utara Dihantui Kekerasan Seksual

Tenda Pengungsi Jadi Lokasi Rawan Pelecehan, Perempuan Aceh Utara Dihantui Kekerasan Seksual
Ilustrasi (net)
Jum'at, 13 Februari 2026 05:49 WIB

ACEH UTARA – Tenda pengungsian yang seharusnya menjadi tempat berlindung pascabencana di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kaum perempuan dan anak. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mengungkap temuan meresahkan terkait kerentanan keamanan di lokasi tersebut.

Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna membeberkan adanya tujuh dugaan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang terjadi di tengah situasi darurat. Bentuk kekerasan yang teridentifikasi sangat beragam, mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan fisik, hingga pelecehan seksual.

"Jumlah kasus yang kecil dalam situasi darurat justru sering kali menjadi tanda bahwa banyak kekerasan tidak dilaporkan," ungkap Husna, Kamis (12/2/2026).

Menurut aktivis kemanusiaan ini, ancaman justru mengintip saat matahari terbenam. Pola pengungsian yang terjadi saat ini dinilai tidak ramah terhadap keselamatan perempuan. Hunian sementara (Huntara) umumnya hanya dimanfaatkan warga untuk beraktivitas pada pagi dan siang hari.

Sebaliknya, saat sore hingga malam, perempuan dan anak-anak kembali tidur di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman rumah mereka yang rusak. Minimnya penerangan, tidak adanya privasi, serta lemahnya pengawasan menciptakan celah bagi pelaku kejahatan.

"Kondisi ini menciptakan ruang hidup yang rawan, akses air bersih dan fasilitas MCK yang tidak memadai semakin memperparah kerentanan mereka," paparnya.

Husna menegaskan bahwa dampak bencana tidak pernah dirasakan sama rata oleh semua gender. Ketika sistem perlindungan sosial runtuh akibat bencana, tubuh perempuan kerap menjadi sasaran empuk eksploitasi dan kekerasan.

“Dalam situasi bencana, kehilangan rumah bukan satu-satunya ancaman. Tubuh dan keselamatan perempuan justru semakin rentan ketika ruang hidup mereka tidak aman,” pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww