Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
2
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
3
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
20 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
20 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
24 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Industri Baja Tertekan, Wamenperin Sebut Indonesia Harus Siaga Hadapi Serbuan Impor

Industri Baja Tertekan, Wamenperin Sebut Indonesia Harus Siaga Hadapi Serbuan Impor
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza di sela raker dengan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Senin, 10 November 2025 18:26 WIB

JAKARTA – Lesunya industri baja yang belakangan ini menjadi sorotan ternyata bukan hanya dialami Indonesia. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, menegaskan bahwa penurunan kinerja sektor baja merupakan fenomena global yang juga menimpa banyak negara lain.

Menurutnya, pelemahan industri properti dunia menjadi salah satu penyebab utama menurunnya permintaan baja secara luas.

“Di seluruh dunia, properti yang menjadi off-taker utama industri baja sedang benar-benar turun. Jadi ini bukan hanya masalah kita, tapi tren global,” kata Faisol di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (10/11/2025).

Faisol menjelaskan, akibat kelebihan pasokan dan rendahnya permintaan domestik di negara produsen, banyak industri baja dunia kini berlomba mencari pasar di negara lain. Mereka memanfaatkan celah dari lemahnya pengawasan di sejumlah negara tujuan ekspor.

“Produsen baja dari berbagai negara berupaya menembus pasar-pasar yang pengawasannya lemah, baik di perbatasan maupun di pasar domestik,” ujarnya.

Indonesia menjadi salah satu target utama ekspor baja dari luar negeri, terutama dari China, yang saat ini tengah menghadapi kelebihan produksi. Kondisi ini membuat pemerintah harus memperketat pengawasan impor agar pasar dalam negeri tidak dibanjiri produk baja murah dari luar. 

“Kami memperkuat pengawasan supaya industri baja nasional yang sedang berusaha meningkatkan utilisasi tidak terganggu oleh banjir produk impor,” tegas Faisol.

Dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Faisol juga mengungkap fakta bahwa produksi baja nasional saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Akibatnya, lebih dari 55 persen konsumsi baja nasional masih dipenuhi oleh impor.

“Rata-rata tingkat utilisasi industri baja nasional baru 52,7 persen. Artinya, kapasitas produksi kita masih jauh dari optimal,” jelasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, industri baja Indonesia mencakup 562 perusahaan logam dasar (KBLI 24) dan 1.592 perusahaan logam bukan mesin (KBLI 25). Namun sebagian besar masih bergantung pada sektor konstruksi dan infrastruktur.

“Karena orientasi pasar masih di konstruksi, pengembangan baja untuk sektor bernilai tambah tinggi seperti otomotif, perkapalan, dan alat berat masih terbatas,” ungkap Faisol.

Menanggapi tantangan ini, pemerintah tengah menyiapkan strategi untuk memperluas pasar dan memperkuat daya saing industri baja nasional. Salah satu fokusnya adalah mendorong inovasi produk dan efisiensi produksi agar lebih kompetitif menghadapi baja impor.

“Pemerintah ingin industri baja tidak hanya bergantung pada proyek infrastruktur. Kita harus masuk ke sektor bernilai tambah tinggi agar industri ini bisa berkelanjutan,” tandasnya. 

Fenomena kelebihan pasokan baja dunia menjadi ujian bagi ketahanan industri nasional. Di tengah gempuran impor dan turunnya permintaan global, arah kebijakan industri kini dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih canggih dan adaptif. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tribunnews.com
Kategori:Pasar & Niaga, Balai Kota
wwwwww