Luka Mendalam di Sidoarjo, Santri dan Keluarga Dihadapkan pada Trauma Panjang
![]() |
| Sejumlah petugas Tim SAR gabungan berjaga di sekitar bangunan musala Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (3/10/2025). (foto: antara/naufal ammar imaduddin) |
Proses evakuasi masih berlangsung intensif. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menyebut total korban yang berhasil dievakuasi telah mencapai 116 orang. “Hari ini ditemukan delapan korban lagi, sehingga total korban meninggal dunia 13 orang. Semua langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Bagi para santri yang selamat, detik-detik bangunan ambruk menjadi memori mencekam. Runtuhan tembok, teriakan teman, hingga kepanikan saat berusaha menyelamatkan diri meninggalkan trauma psikologis yang tidak kalah berat dari luka fisik.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, menekankan tragedi ini seharusnya menjadi titik balik dalam melihat pesantren. “Pondok bukan sekadar tempat menuntut ilmu, ia adalah rumah kedua para santri. Kita tidak boleh lagi mengabaikan aspek keselamatan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar bangunan yang roboh, tragedi Sidoarjo adalah kisah kehilangan. Keluarga berduka, santri mengalami trauma, dan masyarakat pesantren di seluruh Indonesia merasa terancam jika keselamatan mereka tidak segera dijamin.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa setiap nyawa santri harus dipandang sebagai prioritas utama. Tragedi Sidoarjo bukan hanya soal angka korban, melainkan tentang kehidupan yang berubah selamanya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | Inilah.com |
| Kategori | : | Kabar Bertuah, Kampus, Warga Bertuah |











