Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
10 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
6 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
6 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Bor Rig Minyak Kanada Melonjak, Harga Minyak Tergelincir, Arab Saudi Berencana Pangkas Produksi

Bor Rig Minyak Kanada Melonjak, Harga Minyak Tergelincir, Arab Saudi Berencana Pangkas Produksi
Minggu, 11 Juni 2023 19:45 WIB
NEWYORK – Harga minyak mentah meluncur ke bawah, disebabkan oleh peningkatan tajam jumlah rig pengeboran minyak aktif di Kanada. Meningkatnya jumlah rig ini menimbulkan kecemasan pasar akan meluapnya pasokan minyak mentah, meski Arab Saudi bertekad untuk mengurangi lebih banyak lagi produksinya.

"Lonjakan aktivitas pengeboran di Kanada menjadi isu utama yang menekan harga minyak," kata Vladimir Zernov, analis pasar minyak senior dari FX Empire Jumat atau Sabtu (10/6/2023 pagi WIB).

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh perusahaan jasa minyak Baker Hughes, jumlah rig pengeboran minyak aktif di Kanada bertambah 34 unit dalam seminggu, total mencapai 85 unit. Sementara itu, Amerika Serikat hanya menambahkan satu unit, dengan total 556 unit rig pengeboran minyak aktif.

Di Alberta, Kanada, perusahaan minyak berupaya menghidupkan kembali operasional mereka setelah ditutup sementara pada awal Mei dengan kapasitas produksi sekitar 300.000 barel per hari. Penutupan ini akibat dampak kebakaran hutan di daerah tersebut.

Konsekuensi dari lonjakan aktivitas pengeboran ini terlihat pada penurunan harga minyak mentah berjangka. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 1,12 dolar AS atau 1,57 persen, menjadi 70,17 dolar AS per barel. Sementara itu, Minyak Brent untuk pengiriman Agustus jatuh 1,17 dolar AS atau 1,54 persen, menetap di 74,79 dolar AS per barel.

"Dengan melihat tren ini, pasar cemas akan membanjirnya pasokan minyak mentah. Sehingga, pengumuman dari OPEC+ belum memberikan efek signifikan pada stabilitas pasar,'' kata Zernov.

OPEC+ sendiri baru saja mengumumkan pada 4 Juni lalu bahwa mereka akan memangkas produksi hingga 1,393 juta barel per hari hingga akhir tahun 2024. Arab Saudi, sebagai salah satu pemimpin OPEC+, juga mengungkapkan rencana untuk memangkas produksi tambahan sebesar 1 juta barel per hari pada Juli.

Meski upaya pemangkasan produksi ini cukup signifikan, pasar minyak mentah masih menanti respons yang lebih konkrit dari produsen minyak lainnya di tengah meluapnya pasokan. Harga minyak mentah yang tergelincir ini tentu berdampak pada dinamika perekonomian global, khususnya bagi negara-negara pengekspor dan pengimpor minyak. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:republika.co.id
Kategori:Pasar & Niaga, Kuliner
wwwwww