Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
14 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
10 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
10 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
6
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Home  /  Berita  /  Kampus

Murah dan Efektif, Politik Identitas Bisa Isi Pemilu 2024

Murah dan Efektif, Politik Identitas Bisa Isi Pemilu 2024
Ilustrasi mobilisasi politik. (gambar: ist./kompas)
Selasa, 19 April 2022 21:25 WIB
JAKARTA - Direktur Utama Paramadina Public Policy Institute Ahmad Khoirul Umam dalam acara diskusi di Jakarta, Selasa (19/4/2022), mengungkap alasan masih terbukanya penggunaan politik identitas di kontestasi Pemilu 2024.

"Murah meriah, dan efektif memobilisasi massa," kata Umam dikutip GoSumbar.com dari Antara.

Saat ini, menurut dia, masih ada sentimen yang tumbuh di kelompok kanan terhadap pemerintah. Dari segmen Islam misalnya, kata Umam, "Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi (Joko Widodo, red.) relatif minim ruang dialog terutama untuk kelompok-kelompok Muslim (konservatif, red.)."

"Kekecewaan, kemarahan dari kelompok ini terutama kelompok kanan jika tidak di-maintain (kelola, red.) maka ini akan terkonsolidasi dengan baik untuk memberikan dukungan kepada siapa yang mereka dukung," kata Umam.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Parlemen, Kampus
wwwwww