Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
22 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
21 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
22 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
1 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Kampus

Invasi Ratusan Ribu Pikap India Bersiap Gempur Otomotif Nasional

Invasi Ratusan Ribu Pikap India Bersiap Gempur Otomotif Nasional
Industri otomotif dalam negeri. (Foto: gaikindo.or.id)
Sabtu, 28 Februari 2026 07:14 WIB

JAKARTA - Rencana PT Agrinas Pangan Nusantara mendatangkan 105 ribu unit mobil pikap asal India mendapat sorotan tajam dari parlemen. Kebijakan impor berskala raksasa ini dinilai sebagai lonceng bahaya yang siap melumpuhkan fondasi industri otomotif dalam negeri secara perlahan.

Ketua MPP PKS, Mulyanto menilai polemik ini menyangkut arah kedaulatan ekonomi nasional di tengah kuatnya arus tekanan perdagangan global. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak menjadikan Tanah Air sekadar sasaran empuk pasar konsumsi dunia.

"Kekhawatiran publik bahwa Indonesia berpotensi dijadikan pasar bagi produk teknologi lama dari luar negeri harus menjadi alarm bagi pemerintah," ucap Mulyanto melalui keterangan resminya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Masuknya kendaraan asing tersebut memicu ketakutan bahwa Indonesia hanya akan menerima teknologi usang yang sudah tidak lagi menjadi prioritas di negara asalnya. Kondisi ini dipastikan bakal menghambat laju modernisasi dan inovasi pabrik lokal.

"Ketika negara lain telah beralih ke teknologi lebih maju, Indonesia justru berpotensi menerima teknologi yang tidak lagi menjadi prioritas di negara asalnya," urainya.

Ancaman deindustrialisasi ini diperparah dengan adanya desakan internasional, salah satunya dari Amerika Serikat, yang meminta pelonggaran aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam kesepakatan dagang. Jika benteng pertahanan ini dilonggarkan tanpa perhitungan matang, ruang bagi produk impor akan makin mendominasi dan mematikan peluang produsen lokal.

"TKDN selama ini merupakan instrumen strategis negara untuk membangun kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri," papar Mulyanto.

Pelonggaran aturan secara serampangan akan sangat merugikan sektor manufaktur yang memiliki multiplier effect besar bagi perputaran ekonomi rakyat. Padahal, negara-negara maju yang mengampanyekan pasar bebas justru terang-terangan melindungi industri domestik mereka lewat insentif, subsidi, dan kewajiban pengadaan lokal.

Merujuk pada amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, negara diwajibkan memegang kendali penuh atas cabang produksi strategis demi kemandirian bangsa. Anggota Komisi Industri DPR RI Periode 2019-2024 ini menegaskan, setiap wacana impor raksasa harus selalu diikat dengan roadmap industrialisasi yang ketat, mencakup syarat mutlak transfer teknologi hingga kewajiban perakitan lokal.

"Indonesia harus mengedepankan diplomasi industri dalam setiap perjanjian dagang. Fokus utama bukan hanya pada pembukaan pasar, tetapi pada kemitraan produksi, investasi, dan pengembangan teknologi," tutupnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Kampus, Pasar & Niaga
wwwwww