Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
14 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
10 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
10 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
6
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Demo Gen Z Maroko Dibalas Represi, Ribuan Anak Muda Dituduh Pemberontak

Demo Gen Z Maroko Dibalas Represi, Ribuan Anak Muda Dituduh Pemberontak
(afp/abdel Majid bziouat)
Rabu, 29 Oktober 2025 11:10 WIB
JAKARTA – Gelombang protes anak muda yang semula damai kini berubah menjadi tragedi sosial di Maroko. Sebanyak 2.480 orang, mayoritas dari generasi muda yang menamakan diri Gen Z 212, ditetapkan sebagai tersangka setelah turun ke jalan menuntut layanan publik yang lebih baik.

Aksi yang bermula dari seruan di media sosial itu awalnya menyoroti buruknya fasilitas pendidikan dan kesehatan di negara tersebut. Namun, demonstrasi yang berlangsung di berbagai kota berubah tegang setelah aparat membubarkan massa dengan kekerasan. “Sekitar 1.400 orang kini telah ditahan, dan sisanya berstatus terdakwa,” ujar pejabat Kejaksaan Agung Maroko, Hassan Farhan, Selasa (28/10/2025).

Farhan menyebut sekitar seperlima dari mereka didakwa melakukan pemberontakan, sementara sepertiga lainnya dituduh menyerang aparat atau menghasut tindakan kriminal. Selebihnya dianggap berpartisipasi dalam “perkumpulan bersenjata”, meski para saksi menyebut protes berjalan damai.

Hingga kini, pengadilan telah menjatuhkan vonis kepada 411 orang, termasuk 76 anak di bawah umur. Lebih dari 60 di antaranya divonis penjara hingga 15 tahun, sementara sisanya menjalani hukuman percobaan.

Gen Z 212 lahir dari keresahan yang lama dipendam oleh anak muda Maroko: sulitnya akses pendidikan, biaya kesehatan yang mahal, dan ketimpangan sosial yang makin melebar. “Kami bukan pemberontak. Kami hanya ingin sekolah dan rumah sakit yang layak,” tulis pernyataan resmi kelompok tersebut di platform X.

Namun, suara anak muda itu dibalas dengan penangkapan massal. Dalam dua minggu, polisi menangkap ribuan orang di Agadir, Rabat, dan Casablanca. Tiga orang dilaporkan tewas, puluhan luka-luka, dan ratusan lainnya masih hilang.

“Saya melihat anak-anak muda dipukul hanya karena merekam kejadian,” kata Youssef, warga Casablanca yang menyaksikan langsung demonstrasi. “Mereka bilang ini untuk keamanan, tapi yang saya lihat hanya ketakutan.”

Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko (AMDH) mengecam keras tindakan pemerintah. Mereka menyebut laporan polisi yang digunakan sebagai dasar dakwaan disusun di bawah tekanan. “Proses ini bukan lagi penegakan hukum, tapi pembungkaman sistematis,” ujar juru bicara AMDH, Samir El-Khalfi.

Kritik juga datang dari lembaga internasional. Human Rights Watch (HRW) menilai Maroko telah melanggar prinsip kebebasan berpendapat dan hak berkumpul secara damai. “Menangkap anak muda karena protes damai hanya akan menyalakan api perlawanan yang lebih besar,” tulis HRW dalam pernyataannya.

Menanggapi tekanan tersebut, Kejaksaan menegaskan proses hukum dijalankan sesuai aturan. “Semua syarat untuk memastikan pengadilan yang adil telah dijamin,” kata Farhan. Namun, banyak keluarga mengaku belum diizinkan menemui anggota keluarga mereka yang ditahan.

Di tengah meningkatnya kemarahan publik, Raja Mohammed VI akhirnya turun tangan. Dalam pidatonya, Raja menyerukan reformasi sosial dan menjanjikan anggaran sebesar USD 15 miliar untuk memperbaiki pendidikan dan kesehatan. “Maroko harus bertransformasi menjadi negara yang mendengar rakyatnya,” ucapnya.

Meskipun janji itu sedikit meredakan ketegangan, ribuan keluarga masih menunggu kabar dari anak-anak mereka. “Anakku hanya ikut memegang spanduk bertuliskan ‘Sekolah untuk Semua’. Sekarang dia dianggap penghasut,” kata seorang ibu di Rabat dengan suara bergetar.

Pengamat sosial Universitas Mohammed V, Dr. Amina El Fassi, mengatakan peristiwa ini adalah simbol benturan dua generasi: yang berkuasa dan yang menuntut perubahan. “Generasi Z bukan lagi penonton sejarah. Mereka ingin didengar, bukan ditakuti,” ujarnya.

Di media sosial, tagar #JusticeForGenZ212 terus bergema. Ratusan aktivis dari Tunisia, Mesir, dan Aljazair turut menyuarakan solidaritas. Mereka menilai apa yang terjadi di Maroko mencerminkan kegagalan negara-negara di kawasan untuk memahami aspirasi generasi muda.

Kini, suasana di Maroko berangsur tenang, tetapi luka sosialnya masih menganga. Para pengamat memperingatkan bahwa represi hanya akan memperpanjang jarak antara rakyat dan penguasa. “Kalian bisa memenjarakan mereka hari ini,” tulis editorial Le Matin, “tapi tidak selamanya kalian bisa memenjarakan gagasan tentang perubahan.” ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kuliner, Balai Kota
wwwwww