Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
15 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
19 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
15 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Pemuda dan Pemudi Diminta Jaga Peninggalan Sejarah Indonesia

Pemuda dan Pemudi Diminta Jaga Peninggalan Sejarah Indonesia
Penasehat DWP Kemenpora, Nadiah Zainudin Amali, Kunjungi Museum Linggarjati di Kuningan. (Foto: Humas Kemenpora)
Jum'at, 03 Juni 2022 19:47 WIB
Penulis: Azhari Nasution
KUNINGAN - Para pemuda dan pemudi Tanah Air diminta senantiasa menjaga dan merawat situs dan museum peninggalan sejarah. Khususnya Museum Gedung Perundingan Linggarjati di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Permintaan itu disampaikan Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP)  Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Nadiah Zainudin Amali.

Terletak di bagian timur Kota Kuningan. Gedung tua bergaya kolonial Belanda ini sebelum difungsikan sebagai museum sempat mengalami beberapa pergantian fungsi dan kepemilikan. Pada masa kolonial, gedung tua ini sempat menjadi markas tentara. Kemudian diubah fungsi lagi menjadi Sekolah Dasar dan pernah juga menjadi hotel.

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, gedung yang berlokasi di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus ini digunakan sebagai tempat diadakannya Perundingan Linggarjati di tahun 1946. Mengingat peranannya yang penting dalam usaha menciptakan kemerdekaan Indonesia, gedung ini kemudian diresmikan sebagai museum pada tahun 1976.

Bernama lengkap Museum Gedung Perundingan Linggarjati, museum ini menjadi saksi bagaimana perjuangan diplomatik yang dilakukan oleh para pendiri bangsa.

Diketuai oleh Sutan Syahrir, Soesanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohammad Roem, dan Dr. A. K Gani delegasi Indonesia ini berunding dengan delegasi dari Belanda, yaitu Prof. Mr. Schrmerhorn, Dr. F. De Boer, Mr. Van Poll, Dr. Van Mook, dan diplomat Inggris Lord Killearn sebagai mediator.

Bersama juru kunci gedung, Udi S dan rombongan DWP Kemenpora, Penasehat DWP Kemenpora Nadiah Amali memasuki museum. Masuk ke dalam museum, pengunjung seperti dibawa ke dalam napak tilas diplomatik para pendiri bangsa untuk mencapai kemerdekaan.

Di ruangan pertama pengunjung disuguhi Diorama Perundingan Linggarjati dan maket gedung Linggarjati lengkap dengan tulisan lengkap di dinding utama Naskah Persetujuan Linggarjati.

Meja perundingan, berbagai dokumentasi berupa foto, benda-benda peninggalan lainnya, hingga hasil naskah perjanjian Linggarjati bisa disaksikan dari dekat di museum ini.

Selanjutnya, menuju ruang tengah yang merupakan ruang utama yang menjadi tempat perundingan. Di ruangan ini masih lengkap terdapat meja dan kursi lengkap pula dengan nama perwakilan Indonesia dan Belanda yang masih terawat dan terjaga keasliannya.

Berdasarkan sejarah yang tertulis, perundingan Linggarjati diadakan pada 10-12 November 1946. Langkah ini merupakan cara pemerintah mengusir Belanda dengan jalur hukum.

Selanjutnya, rombongan DWP Kemenpora mengunjungi pula kamar tidur, ruang makan dan kamar mandi yang berada di samping kanan dan kiri ruang utama. Di bagian belakang gedung terdapat ruang yang menjadi ruang pertemuan antara Presiden Soekarno dan Lord Killearn.

"Semoga gedung museum ini bisa dirawat dan dipertahankan para pemuda dan pemudi kita, sebagai gedung museum untuk warisan budaya Indonesia," pesan Nadiah Amali yang dituliskan dalam buku tamu usai mengunjungi seluruh bagian gedung museum bersama rombongan pengurus DWP Kemenpora lainnya, Jumat (3/6).

"Kalau tidak dirawat kita tidak akan tahu bahkan tidak memiliki napak tilas sejarah kemerdekaan bangsa," pungkas Penasehat DWP Kemenpora, Nadiah Amali didampingi Ketua DWP Kemenpora Yuli Jonni Mardizal, Sesdep Pengembangan Pemuda Amar Ahmad dan Kepala Pusat PPITKON Edi Nurinda. ***

wwwwww