Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
7 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
4 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Home  /  Berita  /  Pekansikawan

Tuddukat, Kearifan Lokal Warga Mentawai yang Tetap Bertahan

Tuddukat, Kearifan Lokal Warga Mentawai yang Tetap Bertahan
Kepala suku Sakalio di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Teteu Aikub Sakalio, memukul tuddukat di Sanggar Seni Budaya Uma Jaraik Sikerei, Siberut Selatan. (antara/ikhwan wahyudi)
Jum'at, 13 Mei 2022 10:01 WIB
PADANG - Antropolog Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Maskota Delfi menilai tuddukat merupakan kearifan lokal bagi warga di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang tetap bertahan dan digunakan sebagai penyampai kabar gembira dan duka.

"Tuddukat merupakan sesuatu yang dipukul kemudian menghasilkan bunyi, digunakan sebagai penyampai berita gembira dan berita sedih bagi masyarakat Mentawai," kata dia di Padang, Jumat (13/5/2022).

Ia menerangkan untuk berita gembira tuddukat dibunyikan saat mendapatkan hasil buruan atau uba sebagai pemberitahuan kepada anggota uma atau rumah tradisional suku Mentawai.

"Makanya bunyinya agak cepat dan bernada gembira," katanya.

Kemudian untuk penyampai berita kesedihan seperti kematian, tuddukat dipukul dengan pelan. Saat menyampaikan kabar duka, tuddukat dipukul amat berhati-hati agar tidak salah penyampaian dan penerimaan.

Ia mengemukakan saat berita gembira seperti mendapatkan hewan buruan disampaikan lewat tuddukat yang secara filosofis artinya ada semangat berbagi daging kepada anggota uma atau rumah tradisional Mentawai.

"Selain itu juga menunjukkan prestasi karena tidak semua orang terampil dan ahli dalam berburu," katanya.

Sedangkan untuk kabar sedih dalam pemahaman orang Mentawai jika disampaikan secara mendadak tidak baik karena akan menimbulkan kekagetan.

"Oleh sebab itu melalui bunyi tuddukat dipandang mengurangi rasa sedih dan kaget tersebut setelah ada yang meninggal," katanya.

Pada sisi lain, ia melihat penggunaan tuddukat lebih efektif sebagai penyampai pesan di masyarakat Mentawai yang masih alami.

Sebab tidak butuh listrik hingga sinyal seluler dan daya jangkaunya bisa terdengar jauh.

Ke depan ia menilai tuddukat juga berpeluang sebagai penyampai pesan saat ada bencana alam dengan catatan harus ada kreativitas dan memastikan bunyi tersebut bisa dipahami bersama.

Tuddukat merupakan media penyampai informasi warga Mentawai menyerupai kentongan namun ukurannya jauh lebih besar dengan panjang hingga dua meter dan diameter sekitar 60 centimeter.

Tuudukat dipahat dari kayu kulim yang dikenal keras dan liat. Pada bagian tengah dibuat rongga untuk menciptakan nada yang khas.

Seperangkat tuddukat terdiri atas tiga gelondong kayu kulim yang bentuknya sama namun ukurannya berbeda kemudian letakan dibariskan sejajar di loteng beranda depan uma.

Tuddukat paling besar disebut ina, ukuran sedang sileleite dan yang paling kecil disebut toga. Masing-masing tuddukat punya nada tersendiri.

Yang paling besar akan mengeluarkan bunyi vokal i dan u, yang menengah bunyi e dan o serta yang paling kecil vokal a menyerupai cara kerja kode morse.

Untuk memainkan tuddukat dipukul menggunakan dua kayu kecil berbentuk bulat yang disebut tetek.

Menurut Teteu Aikub Sakalio yang merupakan kepala suku Sakalio di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan tuddukat tidak boleh dibunyikan oleh sembarangan orang dan hanya kepala suku yang berhak memukulnya.

"Ada uma pasti ada tuddukat sebagai tradisi budaya Mentawai," katanya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:sumbar.antaranews.com
Kategori:Kabar Bertuah, Balai Kota, Binawidya, Pekansikawan
wwwwww