Hancurnya Keseimbangan Lini Tengah Brasil, Dua Gol Haaland Akhiri Langkah Juara Dunia Lima Kali
![]() |
| Foto jersey Timnas Brasil di Piala Dunia 2026 yang dipajang di Solo Soccer, Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Minggu, 31 Mei 2026. Ancelotti jadi sasaran kritik setelah Brasil tersingkir usai kalah 2-1 dari Norwegia di babak 16 besar. |
JAKARTA - Piala Dunia 2026 menghadirkan kejutan besar di fase gugur. Salah satu kandidat terkuat peraih trofi terpaksa angkat koper lebih awal setelah gagal membendung efektivitas permainan lawan, meninggalkan deretan tanda tanya terhadap kualitas kepelatihan.
Berlaga di babak 16 besar yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Senin (6/7/2026) pagi WIB, Brasil tumbang 1-2 dari Norwegia. Sundulan dan tembakan kaki kiri Erling Haaland membawa lawan memimpin 2-0 sebelum Neymar sukses menyarangkan gol hiburan melalui titik putih.
Kehancuran Taktik Sejak Babak Pertama
Kegagalan Gelandang Newcastle United, Bruno Guimaraes mengeksekusi penalti di awal laga yang ditepis oleh Kiper Norwegia, Orjan Nyland menjadi awal malapetaka. Media lokal seperti O Globo dan Jurnalis UOL, Arnaldo Ribeiro serentak mengkritik Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti. Sang juru taktik dinilai salah besar memilih Bruno yang hanya punya riwayat 3 kali menendang penalti di karier profesionalnya.
"Kami menganalisis statistik pemain lawan dan pemain kami selama setahun. Urutannya adalah Neymar, Igor Thiago, Raphinha, lalu Bruno Guimaraes dan Martinelli," bela Carlo Ancelotti.
"Kami memilih Bruno karena menurut kami dia adalah pilihan terbaik yang ada di lapangan," ungkapnya.
Keseimbangan Brasil semakin hancur setelah Lucas Paqueta ditarik akibat cedera. Pemosisian Gabriel Martinelli sebagai gelandang serta taktik serangan yang hanya bergantung pada Vinicius Junior dan Rayan, membuat Brasil kehilangan kendali seperti saat tampil mendominasi menghadapi Haiti, Skotlandia, dan Jepang.
Bahkan, keputusan memasukkan Endrick dan Neymar dengan mengorbankan kedua pemain sayap dinilai sebagai biang kerok hancurnya bentuk permainan. Carlo Ancelotti disebut "tenggelam" lantaran tak bisa lepas dari bayang-bayang Neymar.
Rekor Statistik Terburuk Sejak 1966
Bagi tim pemegang gelar lima kali juara dunia ini, kekalahan tersebut adalah pencapaian paling memalukan dalam 36 tahun terakhir, mengulang mimpi buruk diusir Argentina pada 1990.
Angka yang dirilis Opta mempertegas betapa hancurnya permainan Brasil. Selecao hanya mencatat 34 persen penguasaan bola, persentase paling rendah sejak era pencatatan 1966. Mereka bahkan gagal menyamai batas rekor 40 persen milik mereka sendiri kala bertanding melawan Belanda pada edisi 1998.
Distribusi bola Brasil sangat tertinggal dengan 329 operan, jauh di bawah Norwegia yang dominan di angka 680 operan. Walau unggul jumlah percobaan mencapai 14 tembakan (4 tepat sasaran) dibandingkan 9 percobaan milik Norwegia (5 tepat sasaran), barisan penyerang Brasil terbukti mandul. Haaland sendiri tampil sangat efisien dengan 4 percobaan berbuah dua gol.
Kondisi jomplang ini sudah dibaca oleh Football Enthusiast, Raka Kisdiyatma lewat perbincangannya di Podcast Super Taktik Tribunnews.
"Dan salah satu kunci Norwegia bisa mengalahkan atau setidaknya mengejutkan Brasil adalah bagaimana mereka memaksimalkan serangan balik dan kualitas set piece-nya, karena keunggulan fisik," paparnya.
Laga menyakitkan ini ditutup oleh derai air mata Neymar. Tragedi tersebut kian memanas karena merembet ke ranah politik. Para pendukung Presiden Luiz InĂ¡cio Lula da Silva mencibir kehadiran Neymar yang dituding merusak aliran bola, sementara simpatisan Mantan Presiden Jair Bolsonaro justru memberikan dukungan penuh karena merasa sang megabintang pantas mendapatkan mandat penalti dari awal. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tribunnews.com |
| Kategori | : | Mimbar Bertuah |











