Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
22 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
21 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
22 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
1 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Kampus

Pasar Menunggu Komitmen Pemerintah untuk Disiplin Fiskal

Pasar Menunggu Komitmen Pemerintah untuk Disiplin Fiskal
Mulyanto. (Ist)
Senin, 04 Mei 2026 21:50 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Pemerintah harus menyikapi dengan bijak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.300 per dolar AS (data 2 Mei 2026) serta anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari belakangan.

Ketua MPP PKS itu mendorong Pemerintah mengirimkan sinyal politik yang kuat, jelas, dan kredibel kepada pasar, bahwa Indonesia berkomitmen penuh untuk menjalankan disiplin fiskal, menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% PDB, serta memastikan independensi otoritas moneter.

Mulyanto mengatakan sinyal politik yang terukur dan berbasis data tersebut akan menjadi fondasi awal bagi upaya pemulihan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

"Pasar kan harus dapat membaca komitmen kuat dan jelas dari Pemerintah. Baru mereka tidak ragu untuk bersikap," tambah Mulyanto.

Selain itu, menurut Mulyanto pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret berupa koreksi kebijakan fiskal melalui evaluasi menyeluruh terhadap program-program belanja negara.

Program sosial dan proyek yang tidak efektif dan tidak efisien perlu ditata ulang, bahkan bila perlu ditunda. Kebijakan ini penting disertai dengan angka penghematan yang jelas, agar pasar melihat adanya keseriusan dalam menjaga keberlanjutan fiskal.

Pasalnya pelemahan nilai rupiah, koreksi tajam di pasar saham, penurunan peringkat investasi di pasar global, meningkatnya beban pembayaran utang, serta defisit APBN yang mendekati batas 3% PDB merupakan indikasi kuat bahwa pasar tengah mengoreksi persepsi terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Ini menunjukkan tekanan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebagai fluktuasi biasa, dan juga bukan semata-mata persoalan eksternal geopolitik, melainkan juga refleksi dari kekhawatiran terhadap disiplin fiskal domestik dan kualitas tata kelola ekonomi nasional.

Langkah-langkah di atas sangat penting di samping mendesaknya penguatan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di segala sektor. Termasuk, dalam tata kelola sektor keuangan.

Otoritas keuangan terkait perlu memastikan transparansi, menertibkan praktik-praktik yang merusak integritas pasar, serta meningkatkan perlindungan investor.

Langkah-langkah di atas sangat strategis untuk mengembalikan kepercayaan lembaga pemeringkat global dan indeks saham internasional terhadap kredibilitas pasar modal Indonesia.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi nasional sangat ditentukan oleh keberanian Pemerintah untuk mengambil sikap yang tepat demi kepentingan nasional jangka panjang.

Dengan langkah politik yang tegas, terukur, dan berpihak pada prinsip kehati-hatian, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk keluar dari tekanan ekonomi ini dan kembali pada jalur pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. ***

wwwwww