Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
23 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
22 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
23 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
2 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Kampus

Harga Minyak Tembus USD 92 Per Barel, PKS: Pemerintah Jangan Naikkan BBM Bersubsidi Dulu

Harga Minyak Tembus USD 92 Per Barel, PKS: Pemerintah Jangan Naikkan BBM Bersubsidi Dulu
Mulyanto. (Ist)
Sabtu, 07 Maret 2026 16:02 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Harga minyak acuan global Brent crude oil hari ini, Sabtu (7/3) telah menembus angka USD 92 per barel.  Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa apabila harga minyak tembus USD92 per barel, maka defisit APBN akan melampaui batas UU, yang 3 persen PDB, jika tidak dilakukan penyesuaian kebijakan fiskal.

Untuk itu Mulyanto, yang Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, meminta Pemerintah menjelaskan rencana penyesuaian kebijakan fiskalnya secara terbuka dan transparan kepada publik dan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite.

Anggota Komisi Energi DPR RI periode 2019-2024 itu menyebut kebijakan menaikkan harga BBM, secara langsung akan menekan daya beli masyarakat dan memicu tekanan inflasi. Serta memiliki dampak yang luas terhadap biaya transportasi, harga pangan, serta biaya produksi yang pada akhirnya membebani masyarakat luas.

"Kebijakan ini tentu akan menyulitkan masyarakat. Karenanya harus dihindari Pemerintah," tegas Mulyanto.

"Secara kreatif pemerintah mesti meninjau dan menyesuaikan kembali pos-pos pengeluaran anggaran yang tidak tepat sasaran atau tidak efisien, selain mengoptimalkan tambahan pemasukan dari windfall profit ekspor komoditas seperti batubara, CPO, nikel dll," tambahnya.

Menurut Mulyanto, sudah semestinya Pemerintah secara serius melakukan rasionalisasi dan realokasi belanja negara yang tidak prioritas. Peninjauan kembali program-program yang menekan APBN, penjadwalan ulang proyek yang kurang mendesak, serta peningkatan efisiensi belanja negara untuk dapat membuka ruang fiskal tanpa harus membebani masyarakat.

Langkah tersebut juga perlu didukung oleh optimalisasi kontribusi BUMN energi, termasuk dari Pertamina, serta perbaikan ketepatan sasaran subsidi agar penggunaan anggaran negara menjadi lebih efektif.

Mulyanto meminta pemerintah untuk menjalankan kebijakan ini secara prudent dan transparan. Publik berhak mengetahui simulasi dampak harga minyak terhadap APBN serta daftar program belanja yang akan direvisi. Keterbukaan kebijakan akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa stabilitas fiskal dijaga tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

Untuk diketahui lonjakan harga minyak global, yang jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar USD70 per barel, telah menjadi risiko nyata terhadap stabilitas fiskal nasional.

Selisih sekitar USD 20 per barel minyak global hari ini dari asumsi APBN menimbulkan tekanan besar pada belanja subsidi dan kompensasi BBM yang harus ditanggung negara. Sementara angka tersebut masih dinamis. ***

wwwwww