Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
23 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
22 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
23 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
2 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Kampus

Firman Soebagyo: Negara Berisiko Salah Arah Tanpa Satu Data Nasional

Firman Soebagyo: Negara Berisiko Salah Arah Tanpa Satu Data Nasional
Firman Soebagyo. (Ist)
Rabu, 11 Februari 2026 00:53 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Firman Soebagyo menegaskan, Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat data. Ia menyebut negara belum memiliki data nasional yang terintegrasi, valid, dan dapat dijadikan acuan tunggal dalam perumusan kebijakan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.

Menurut Firman, kondisi ini sangat memprihatinkan dan berbahaya bagi masa depan pembangunan nasional.

“Bagaimana negara mau mengambil keputusan yang tepat kalau data yang digunakan masih terpecah-pecah, saling bertabrakan, bahkan tidak sinkron antar kementerian dan lembaga?” tegas Firman di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Firman menyatakan bahwa ketiadaan satu data nasional membuat banyak kebijakan pemerintah berisiko salah sasaran, tidak efisien, dan membuka ruang pemborosan anggaran negara.

“Tanpa data yang akurat dan terpadu, pembangunan bisa salah arah. Bantuan sosial bisa tidak tepat sasaran, perencanaan ekonomi bisa meleset, dan kebijakan publik menjadi tidak berbasis fakta,” ujarnya.

Politisi senior Partai Golkar ini menilai bahwa persoalan data bukan sekadar teknis birokrasi, tetapi menyangkut kredibilitas negara dalam mengelola pemerintahan modern.

Dalam konteks itu, Firman menegaskan bahwa Rancangan Undang-Undang Satu Data Indonesia (RUU SDI) yang sedang dibahas DPR harus menjadi instrumen strategis untuk membenahi kekacauan tata kelola data nasional.

“RUU Satu Data Indonesia harus menjadi fondasi hukum yang kuat agar seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah tunduk pada satu sistem data nasional yang seragam, valid, dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata anggota Komisi IV DPR ini.

Firman mengingatkan, tanpa payung hukum yang tegas, ego sektoral antar lembaga akan terus memproduksi data versi masing-masing, sehingga negara tidak pernah memiliki satu kebenaran data.

“Kalau negara tidak punya satu data, maka yang terjadi adalah negara berjalan dalam kabut. Ini berbahaya bagi demokrasi, pembangunan, dan kepercayaan publik,” tandas Wakil Ketua Fraksi Golkar di MPR.

Ia pun mendesak pemerintah untuk tidak memperlambat pembahasan dan implementasi RUU SDI, karena menurutnya, reformasi data adalah syarat mutlak bagi pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan efektif.

“Satu Data Indonesia bukan proyek teknis, ini proyek kedaulatan informasi negara,” pungkas Firman yang juga Legislator dapil Jateng III ini. ***

wwwwww