Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
2
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
23 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
3
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
4
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
12 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
5
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
12 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Home  /  Berita  /  Kuliner

Zona Aman Tak Lagi Aman, Ratusan Tewas di Tengah Gempuran Israel

Zona Aman Tak Lagi Aman, Ratusan Tewas di Tengah Gempuran Israel
Ilustrasi (net)
Senin, 18 Agustus 2025 08:00 WIB

GAZA – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik nadir setelah militer Israel memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka di Kota Gaza. Serangan besar-besaran sejak Ahad (17/8/2025) menjadi bagian dari "tahap lanjutan rencana perang" yang disetujui oleh Kepala Staf IDF, Eyal Zamir.

"Kami telah menyetujui rencana perang tahap berikutnya yang fokus ke pusat Kota Gaza," ujar Zamir, dilansir The Times of Israel.

PBB dan sejumlah organisasi kemanusiaan internasional mengutuk langkah Israel yang memaksa warga sipil mengungsi di tengah konflik bersenjata. Situasi ini memicu kekhawatiran akan semakin banyak korban sipil.

Militer Israel mengklaim telah menyiapkan tenda dan bantuan kemanusiaan melalui titik Kerem Shalom. Namun, pendistribusian bantuan belum menyentuh sebagian besar warga Kota Gaza yang kini jumlahnya diperkirakan mencapai satu juta jiwa.

Kelompok Jihad Islam Palestina mengecam rencana itu sebagai pelanggaran konvensi internasional. "Memaksa warga sipil mengungsi di tengah perang adalah kejahatan kemanusiaan yang nyata," tegas mereka.

Serangan terbaru menyasar wilayah padat penduduk seperti Zeitoun dan Shujaiya. Dua warga tewas akibat serangan drone di Asqaula. Serangan lainnya di dekat Masjid al-Alami menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.

Di al-Mawasi, zona yang diklaim aman oleh Israel, Motasem al-Batta, istrinya, dan bayi mereka tewas dalam tenda akibat serangan udara. "Bayi dua setengah bulan itu bahkan belum tahu dunia," ucap Fathi Shubeir, tetangga korban.

Sejak Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 61.827 korban jiwa. Dalam 24 jam terakhir, sebelas warga, termasuk seorang anak, meninggal akibat kelaparan.

Situasi di Rumah Sakit al-Shifa kian memprihatinkan. Lebih dari 200 pasien kritis berjuang hidup di tengah keterbatasan obat-obatan dan nutrisi. Direktur rumah sakit, Mohammed Abu Salmiya, mengungkapkan banyak pasien harus diamputasi karena infeksi yang tak tertangani.

WHO melaporkan lebih dari 14.800 pasien membutuhkan evakuasi medis mendesak. Namun, bahkan setelah dievakuasi, nyawa tak selalu terselamatkan. Seperti Marah Abu Zuhri (20), yang meninggal dua hari setelah tiba di Italia karena kondisi medis yang kompleks.

Sekitar 40.000 bayi di Gaza saat ini menderita malnutrisi akut akibat minimnya pasokan makanan dan bantuan.

Di Israel, keluarga 50 sandera yang ditahan Hamas menuntut pemerintah menghentikan operasi militer. Namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras melanjutkan agresi. "Saya tidak punya pilihan lain," katanya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kuliner
wwwwww