Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
2
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
22 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
11 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
6
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
11 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Home  /  Berita  /  Opini

Budaya Tak Cukup Dihormati Lewat Baju Adat, Perlu Aksi Nyata

Budaya Tak Cukup Dihormati Lewat Baju Adat, Perlu Aksi Nyata
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Muhammad Rifki.
Senin, 18 Agustus 2025 07:06 WIB

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Muhammad Rifki atau Eki Pitung, menyoroti pemanfaatan pakaian adat dalam perayaan Hari Kemerdekaan yang menurutnya hanya bersifat simbolik. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tak cukup hanya dengan seremoni, tapi harus diiringi langkah konkret dari negara.

"Para pejabat mengenakan baju adat setiap 17 Agustus, tapi di sisi lain, budaya lokal justru tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Seakan hanya jadi hiasan seremonial," ucap Eki di Jakarta, Ahad (17/8/2025).

Eki mengingatkan bahwa berdirinya Indonesia tidak lepas dari peran besar para tokoh adat, raja-raja, dan kesultanan yang telah lebih dahulu berjuang melawan penjajah. Namun saat ini, masyarakat adat justru masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan yang layak.

"Pasal 18B ayat 2 UUD 1945 jelas mengakui eksistensi masyarakat hukum adat. Tapi implementasinya masih jauh dari harapan," tegasnya.

Menurutnya, masyarakat adat hanya ingin warisan budaya mereka tidak punah. Mereka juga berharap negara hadir dalam menjamin pendidikan, akses ekonomi, dan penghargaan terhadap jasa leluhur mereka.

"Kami tidak meminta berlebihan. Hanya keadilan dan perhatian. Mereka telah berkorban untuk kemerdekaan, sudah sepantasnya negara memperhatikan nasib para keturunan pejuang ini," ujarnya.

Eki juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Ia percaya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia bisa menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan nasional.

"Kami yakin, di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo, budaya Indonesia akan kembali menjadi poros pembangunan dan identitas kebangsaan yang kuat," katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih peka terhadap perjuangan rakyat tertindas, termasuk Palestina, sebagai cermin kepedulian terhadap nilai-nilai kemerdekaan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Opini
wwwwww