Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
2
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
22 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
11 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
6
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
11 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Home  /  Berita  /  Parlemen

'Banyak Kepala Daerah Lupa Diri', Wakil Ketua Komisi II DPR Evaluasi Biaya Politik

Banyak Kepala Daerah Lupa Diri, Wakil Ketua Komisi II DPR Evaluasi Biaya Politik
Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf.
Rabu, 29 Juli 2026 14:18 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi II DPR, Dede Yusuf Macan memberikan tanggapan serius terkait penangkapan Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rabu (29/7/2026). Peristiwa ini memicu dorongan kuat dari parlemen untuk mengevaluasi akar penyebab maraknya kepala daerah yang tersandung kasus dugaan korupsi.

Ia menyampaikan keprihatinannya atas tren penangkapan tersebut dan mengajak publik untuk tidak sekadar melihat akibatnya, melainkan menelusuri akar masalahnya. Tingginya biaya politik saat mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dinilai sebagai salah satu faktor utama yang memicu pejabat mencari pengembalian dana.

"Ada beberapa faktor. Faktor pertama adalah memang mengikuti pilkada itu berbiaya cukup tinggi, berbiaya cukup mahal. Apalagi tingkat money politics pada saat pemilihan menjadi sangat tinggi, dan itu menyebabkan umumnya hampir semua kepala daerah merasa harus ada return atas biaya yang dikeluarkan," paparnya.

Selain persoalan modal politik, politikus Partai Demokrat ini juga menyoroti besarnya wewenang kepala daerah. Kewenangan absolut dalam mengatur dan membuat keputusan dinilai sering kali membuka celah penyalahgunaan yang berujung pada tindak pidana korupsi.

Di sisi lain, minimnya pendapatan resmi atau gaji yang diterima kepala daerah ikut memperburuk keadaan. Gaji dan tunjangan yang terbatas kerap kali tidak mampu menutupi tingginya tuntutan dari konstituen, pendukung, hingga biaya koordinasi ke berbagai pihak. Kondisi inilah yang menurutnya kerap membuat seorang pejabat menjadi lupa diri.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya perbaikan regulasi, mulai dari menekan biaya Pilkada agar lebih mengedepankan adu gagasan, hingga perbaikan struktur pendapatan bersih pejabat daerah. Bentuk apresiasi tersebut bisa berupa penyesuaian biaya penunjang operasional maupun tambahan pendapatan asli daerah, sebagaimana yang diatur dalam PP 69 Tahun 2010.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo membenarkan adanya OTT terhadap Bupati Pemalang beserta jajarannya. Dalam operasi senyap tersebut, penyidik menyita sejumlah barang bukti yang menguatkan dugaan tindak pidana.

"Tim juga mengamankan barang bukti di antaranya uang tunai sejumlah lebih dari Rp2 miliar. Dan tentunya barang bukti-barang bukti lainnya juga diamankan dalam rangkaian peristiwa tangkap tangan ini," ungkap Budi, seraya menambahkan bahwa 21 orang telah diamankan dan sejumlah ruangan di Pemkab Pemalang telah disegel.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Parlemen
wwwwww