Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
17 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
2
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
21 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Home  /  Berita  /  Kuliner

Bantuan Amerika dan Sekutu, Permulus Lahirnya Badan Intelijen Baru Jepang

Bantuan Amerika dan Sekutu, Permulus Lahirnya Badan Intelijen Baru Jepang
Sanae Takaichi, perempuan pertama jadi kandidat perdana menteri Jepang.
Senin, 13 Juli 2026 18:54 WIB

JAKARTA - Tekanan geopolitik di Asia Timur memaksa Jepang menanggalkan trauma Perang Dunia II. Negara tersebut secara resmi merombak aparatur pertahanan dan intelijennya demi menghadapi agresivitas militer dan nonmiliter dari Cina, Rusia, dan Korea Utara (DPRK).

Perubahan mendasar ini ditandai dengan pengesahan undang-undang pembentukan National Intelligence Council (Dewan Intelijen Nasional) dan National Intelligence Bureau (Biro Intelijen Nasional) oleh Parlemen Jepang, Rabu (27/5/2026). Langkah strategis ini mengintegrasikan rantai komando yang sebelumnya terpecah, seolah menggeser sorotan dari isu lain, termasuk di tengah kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Lembaga yang sebelumnya bekerja dalam sekat birokrasi kini dilebur. Badan-badan tersebut meliputi Cabinet Intelligence and Research Office (CIRO), Biro Keamanan Kepolisian Nasional, Public Security Intelligence Agency (Kementerian Kehakiman), unit intelijen Kementerian Luar Negeri, hingga Defense Intelligence Headquarters (Kementerian Pertahanan). Kini, CIRO bertransformasi menjadi National Intelligence Bureau.

Menurut Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, informasi merupakan kekuatan krusial layaknya diplomasi dan militer.

"Tanpa kemampuan informasi yang kuat, Jepang juga akan kekurangan kapasitas diplomatik, kemampuan pertahanan, posisi ekonomi, dan keahlian teknologi," papar Takaichi, Senin (19/1/2026).

Pada pidatonya, Jumat (20/2/2026), Takaichi secara gamblang menyebut Jepang tengah menghadapi lingkungan keamanan pascaperang yang paling berat.

Ancaman Nyata di Ambang Pintu

Pusat komando intelijen ini dirancang untuk mendeteksi ancaman dari tiga front utama:

  • Cina: Ekspansi militer Beijing di Laut Cina Timur, sengketa Kepulauan Senkaku (Diaoyu), dan ancaman di Selat Taiwan, ditambah pencurian teknologi.
  • Rusia: Modernisasi perang seperti di Ukraina melalui sabotase dan siber, serta sengketa lama di Wilayah Utara.
  • Korea Utara: Ancaman nuklir dan rudal balistik dari Pyongyang yang semakin nyata.

Dalam proses pembangunannya, Jepang tidak berjalan sendiri. The New York Times, Senin (13/7/2026) melaporkan bahwa Tokyo meminta masukan dari Amerika Serikat, Australia, dan Jerman. Ketiga negara ini dipilih berdasarkan pengalaman mereka; AS dengan komunitas intelijen raksasa, Australia dengan koordinasi domestik-luar negeri, serta Jerman dengan sistem pengawasan pasca-rezim otoriter abad ke-20.

Dukungan kuat juga datang dari Direktur Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI, Kash Patel saat bertemu Kepala CIRO, Kazuya Hara di Washington, Mei 2026.

Patel menegaskan institusi baru ini akan “sangat memperkuat kemitraan bersama” antara Washington dan Tokyo di bidang siber hingga kontraterorisme.

Peluang Jaringan Five Eyes

Reformasi ini bertujuan membuat Jepang mandiri, beralih dari konsumen menjadi pemasok intelijen bagi sekutu seperti jaringan Five Eyes (Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru).

Potensi besar Jepang juga disoroti oleh Peneliti senior keamanan Indo-Pasifik di Royal United Services Institute atau RUSI, Philip Shetler-Jones dan Peneliti tamu RUSI, Masashi Umehara, Rabu (3/6/2026).

"Kedekatan Jepang dengan Cina, Rusia, dan DPRK menempatkannya pada posisi menguntungkan untuk mengumpulkan informasi yang akan meningkatkan kesadaran situasional Inggris," jelas keduanya dalam analisis RUSI.

Meski demikian, publik mengkhawatirkan kewenangan luas yang berpotensi melanggar privasi layaknya negara pengawas. Resolusi tambahan mendesak pemisahan tegas antara lembaga intelijen dan pembuat kebijakan, demi memastikan badan mirip Central Intelligence Agency (CIA) atau Secret Intelligence Service (MI6) ini tidak digunakan untuk kepentingan politik dalam negeri.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kuliner
wwwwww