Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
23 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
21 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
23 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
2 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Kampus

Bill Gates Ungkap Empat Profesi yang Sulit Digantikan Kecerdasan Buatan

Bill Gates Ungkap Empat Profesi yang Sulit Digantikan Kecerdasan Buatan
Bill Gates (Foto: EPA)
Selasa, 30 Juni 2026 16:42 WIB

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kian pesat memicu kekhawatiran global mengenai pergeseran dunia kerja. Namun, pendiri Microsoft, Bill Gates, justru memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, masih banyak bidang pekerjaan yang sulit digantikan mesin karena membutuhkan kreativitas, penilaian manusia, pengalaman, serta tanggung jawab etika yang kompleks.

Pandangan Gates dihimpun dari berbagai kesempatan, termasuk saat tampil dalam acara The Tonight Show Starring Jimmy Fallon di NBC Studios, New York. Ia menekankan bahwa manusia memiliki preferensi yang tidak bisa dipenuhi oleh teknologi semata.

"Kita tidak ingin menonton komputer bermain bisbol," ujarnya, menyoroti posisi atlet profesional sebagai profesi yang nilai utamanya terletak pada emosi, drama, rivalitas, dan hubungan nyata dengan penonton.

Selain bidang olahraga, Gates secara konsisten menekankan peran manusia dalam bidang teknis dan ilmiah, seperti pemrograman, biologi, dan energi. Dalam wawancara dengan Axios pada Senin (3/2/2025), ia mengibaratkan belajar dasar pemrograman sama pentingnya dengan memahami matematika. Meski AI mampu menulis kode, manusia tetap harus memiliki logika untuk mengevaluasi hasil, memahami kebutuhan sistem, hingga memastikan keamanan.

Moneycontrol dalam laporannya pada Selasa (18/6/2024) juga mencatat penegasan Gates bahwa insinyur perangkat lunak tetap krusial di masa depan. Ia menepis anggapan bahwa kehadiran AI akan menghapus profesi tersebut secara total.

Berdasarkan data U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS) Mei 2024, sektor-sektor yang disinggung Gates memang menunjukkan prospek pendapatan yang menjanjikan. Median gaji software developer mencapai 133.080 dolar AS per tahun dengan proyeksi pertumbuhan lapangan kerja 15 persen pada periode 2024–2034. Di bidang biologi, biochemists and biophysicists memiliki median pendapatan 103.650 dolar AS per tahun, sementara pakar energi seperti petroleum engineers tercatat dengan median pendapatan hingga 141.280 dolar AS per tahun.

Gates menegaskan bahwa peran manusia tetap tak tergantikan dalam penyusunan hipotesis penelitian, pengambilan keputusan keselamatan infrastruktur, hingga pengelolaan etika yang krusial bagi kehidupan. AI diposisikan sebagai alat pendukung yang mempercepat riset dan analisis, bukan pengganti peran strategis manusia.

Alih-alih memprediksi kepunahan profesi tertentu, Gates mengajak pekerja untuk memahami bahwa AI akan mengubah cara manusia beraktivitas. Pekerjaan yang bersifat rutin memang berpotensi besar untuk diotomatisasi, namun profesi yang menuntut penalaran, empati, serta tanggung jawab besar akan tetap membutuhkan sentuhan manusia untuk waktu yang lama.

"Pesan utamanya adalah bagaimana kita membangun keterampilan yang tidak mudah ditiru mesin," jelasnya dalam berbagai dialog mengenai masa depan tenaga kerja.

Di tengah transformasi digital ini, kemampuan berpikir kritis, pemahaman teknologi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama agar tetap relevan di pasar kerja global. Teknologi tidak datang untuk menghapus manusia, melainkan untuk mengubah lanskap pekerjaan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan kolaborasi yang lebih dalam antara kecerdasan mesin dan kebijaksanaan manusia.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kampus
wwwwww