Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
19 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
2
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
22 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Investor Tahan Modal Tunggu Keputusan Morgan Stanley Capital International

Investor Tahan Modal Tunggu Keputusan Morgan Stanley Capital International
Ilustrasi (net)
Senin, 22 Juni 2026 21:56 WIB

JAKARTA - Perdagangan pasar modal dan uang ditutup dengan rapor merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk 0,98 persen ke level 6.116,69. Nasib serupa dialami nilai tukar rupiah yang melemah 0,22 persen menuju angka Rp 17.843 per dolar Amerika Serikat.

Statistik perdagangan Senin (22/6/2026) memperlihatkan mayoritas emiten tertekan. Angka menunjukkan 445 saham melemah, 221 saham menguat, dan 147 saham stagnan. Tercatat frekuensi transaksi mencapai 1,73 juta kali. Volume saham yang diperjualbelikan sebanyak 22,51 miliar lembar dengan total nilai Rp 13,48 triliun.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebut investor memilih strategi aman. Mereka menantikan agenda Annual Market Classification Review dari Morgan Stanley Capital International pada Rabu (24/6/2026).

"Selain itu, beberapa isu mengenai UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menimbulkan ketidakpastian di pasar," urai Tim Riset Phintraco Sekuritas.

Pelemahan mata uang ini terbilang wajar karena sejalan dengan tren penurunan di kawasan Asia. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan prediksi Bank Indonesia (BI) memegang peranan krusial. Potensi inflasi dari penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubdisi serta fenomena El Nino membuat pasar merespons negatif.

Secara global, indeks dolar AS mendapatkan momentum penguatan. Hal ini dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang mengancam Iran dengan aksi militer tambahan. Peringatan tersebut dilontarkan terkait aktivitas kelompok Hizbullah di Libanon.

Walau sempat memanas, situasi global mendapat sedikit angin segar.

"Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global," beber Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww