Kelumpuhan Selat Hormuz Picu 'Tsunami' Harga Minyak, Brent Tembus 112 Dolar AS
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kini menyeret dunia ke ambang krisis energi setelah harga minyak mentah internasional melesat gila-gilaan. Kekhawatiran pasar memuncak menyusul gangguan pasokan di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi energi global.
Melansir data Reuters, Sabtu (28/2/2026), harga minyak mentah Brent melonjak 4,22 persen hingga bertengger di level 112,57 Dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Jumat. Tren serupa terjadi pada minyak mentah Amerika Serikat (WTI) yang meroket 5,4 persen menuju angka 99,64 Dolar AS per barel.
Fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur vital ini melayani sekitar 20 persen lalu lintas minyak dan gas dunia, namun kini terhambat akibat aksi Iran yang membatasi pergerakan di kawasan tersebut.
"Semakin lama gangguan di Selat Hormuz berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap harga energi dan ekonomi global," ungkap sejumlah analis pasar yang memprediksi lonjakan ini akan memicu badai inflasi.
Kenaikan biaya transportasi dan produksi menjadi ancaman nyata yang siap menggerus daya beli masyarakat. Dampaknya mulai terasa dengan merosotnya kepercayaan konsumen di Amerika Serikat, yang menjadi sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.
Di tengah situasi genting ini, manuver diplomatik Presiden AS, Donald Trump, untuk memperpanjang tenggat negosiasi dengan Iran rupanya belum cukup sakti menenangkan gejolak pasar. Investor menilai dunia membutuhkan langkah konkret untuk memulihkan jalur distribusi energi yang kini tersandera konflik.
Prahara harga minyak ini juga mengubah peta pasar keuangan. Saat aset aman seperti emas mulai diburu, para pemodal kini bersiap mengantisipasi kebijakan agresif Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga demi meredam inflasi yang dipicu meroketnya harga bahan bakar.***











