Home  /  Berita  /  Kampus

Kapasitas Besar Terbuang Percuma, Pengusaha Angkutan Keluhkan Merak Sepi Jelang Lebaran

Kapasitas Besar Terbuang Percuma, Pengusaha Angkutan Keluhkan Merak Sepi Jelang Lebaran
Kondisi dermaga 4 dan 5 Pelabuhan Merak Sepi dari antrean kendaraan yang akan menyebrang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung pada H-4 Lebaran 2026, Selasa (17/3/2026). (foto: kompas.com/rasyid ridho)
Rabu, 18 Maret 2026 08:49 WIB

CILEGON – Aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pengalihan angkutan mudik Lebaran 2026 justru menciptakan penumpukan penumpang di jalur alternatif. Sementara itu, Pelabuhan Merak yang berstatus sebagai gerbang utama penyeberangan lintas Jawa menuju Sumatera malah terpantau sunyi pada H-3 perayaan hari raya, Selasa (17/3/2026).

Kondisi sepi ini memicu keprihatinan mendalam dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap). Organisasi ini menyoroti mubazirnya tujuh pasang dermaga moving bridge serta 71 kapal roll on-roll off (roro) berkapasitas di atas 5.000 gross tonnage (GT) yang dibiarkan bersandar tanpa muatan maksimal.

Ketua Umum DPP Gapasdap, Khoiri Soetomo menilai situasi tersebut sangat kontras dengan kepadatan ekstrem yang menyiksa warga di pelabuhan penunjang, seperti Pelabuhan Ciwandan dan Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ).

"Bisa kita lihat sampai sore ini, padahal hari ini H-3 yang biasanya menjadi puncak dan selalu terjadi antrean," tuturnya.

Melihat penderitaan pemudik sepeda motor dan pengemudi logistik yang kelelahan di rute alternatif, pihak pengusaha tidak tinggal diam. Mereka tercatat telah melayangkan dua surat resmi kepada Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi untuk menuntut penerapan aturan secara lebih dinamis.

"Dengan kapasitas besar dan kemampuan olah gerak yang cepat, sangat disesalkan jika hari ini justru dikosongkan," paparnya.

Gapasdap mendesak pemerintah agar segera membuka kembali akses Pelabuhan Merak saat area penunjang mengalami kelebihan muatan. Kebijakan situasional di lapangan dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan para pelintas antarpulau dari kelelahan parah akibat rute pengalihan yang tidak manusiawi.

"Yang kami pikirkan adalah penderitaan para pengemudi truk dan pemudik roda dua yang harus menempuh perjalanan lebih jauh dengan kondisi yang tidak nyaman," urainya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Kampus
wwwwww