Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
16 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
2
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
19 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Surat Terakhir Siswa SD di Jerebuu, Alarm Keras Buat Pemerintah yang Terobsesi Angka Makro

Surat Terakhir Siswa SD di Jerebuu, Alarm Keras Buat Pemerintah yang Terobsesi Angka Makro
Ilustrasi (net)
Selasa, 03 Februari 2026 06:10 WIB

JAKARTA – Sebuah surat singkat dari seorang anak kelas IV Sekolah Dasar berinisial YS di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi nisan bagi nurani bangsa. YS ditemukan meninggal dunia setelah gantung diri di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026), dipicu rasa putus asa karena permintaan sederhana untuk memiliki buku tulis tak mampu dipenuhi sang ibu.

Kematian bocah berusia 10 tahun ini memicu kritik tajam dari pengamat politik, Rocky Gerung. Ia menilai ada kontras yang menyakitkan antara panggung internasional yang sedang dinikmati pemerintah dengan kenyataan pahit di akar rumput.

"Kebesaran bangsa yang digelorakan pemerintah, bahkan sampai di forum internasional, dibatalkan oleh peristiwa seorang anak yang memutuskan gantung diri karena ibunya tidak bisa menyediakan buku tulis," ujar Rocky dalam unggahan video di kanal YouTube pribadinya, Selasa (3/2/2026).

Rocky menyoroti ambisi Presiden Prabowo Subianto yang baru saja memaparkan kesuksesan ekonomi Indonesia di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Baginya, angka-angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis menjadi tidak berarti ketika negara gagal menjamin kebutuhan dasar pendidikan bagi rakyatnya sendiri.

"Buku tulis adalah hak anak Indonesia yang seharusnya disediakan negara. Ini adalah simbol niat seseorang untuk menjadi terdidik dan berguna bagi bangsa di masa depan," jelasnya.

Lebih lanjut, Rocky menyebut bahwa fokus pemerintah pada instrumen ekonomi seperti Danantara dan IHSG telah membuat penguasa abai terhadap human solidarity atau solidaritas kemanusiaan. Ia menganggap insiden di Jerebuu ini sebagai alarm bahwa ada kelompok masyarakat yang "tercecer" di tengah paksaan pertumbuhan ekonomi 7 hingga 8 persen.

"Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah dalam memastikan keadilan sosial. Kita berada dalam kondisi di mana disparitas atau kesenjangan pada akhirnya menghasilkan penderitaan yang sangat nyata," tegasnya, Senin (2/2/2026).

YS sebelumnya ditemukan tak bernyawa di kebun milik neneknya setelah sempat mengungkapkan keinginannya belajar melalui surat kepada ibunya. Namun, kendala ekonomi yang mencekik keluarga tersebut membuat buku tulis menjadi beban yang mustahil dipikul, hingga akhirnya berujung pada tragedi yang menyayat hati publik ini.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Warga Bertuah, Pasar & Niaga, Balai Kota, Hukum
wwwwww