Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
2
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
3
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
4
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
5
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
3 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Defisit APBN Melebar, DPR Ingatkan Peran Strategis Menkeu

Defisit APBN Melebar, DPR Ingatkan Peran Strategis Menkeu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (foto: rmol/alifia)
Kamis, 08 Januari 2026 19:59 WIB

JAKARTA – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 ditutup dengan defisit Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi ini menunjukkan tekanan fiskal yang semakin nyata karena mendekati batas maksimal defisit yang diatur undang-undang.

Angka tersebut melonjak dibandingkan realisasi APBN 2024 yang tercatat Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB. Defisit 2025 juga melampaui proyeksi pemerintah yang sebelumnya diperkirakan berada di kisaran 2,78 persen terhadap PDB.

Sorotan datang dari Anggota DPR RI, Mardani Ali Sera, yang menilai ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Ia mengingatkan agar pengelolaan anggaran ke depan dilakukan dengan kehati-hatian ekstra.

“Angka 2,92 persen defisit nyaris menyentuh angka kramat 3 persen seperti diamanatkan UU Keuangan Negara tentang maksimal defisit,” ujarnya melalui akun X, Kamis (8/1/2026).

Ia memandang tekanan terhadap APBN masih berpotensi berlanjut. Kebutuhan pembiayaan pemulihan bencana di dalam negeri dinilai akan terus meningkat. Di sisi lain, ketidakpastian harga minyak dunia berisiko menambah beban subsidi dan belanja negara, sementara kinerja ekspor nasional belum sepenuhnya pulih.

“Tekanan APBN di 2026 mesti waspada,” tegasnya.

Dalam kondisi tersebut, Mardani menaruh harapan besar kepada Menteri Keuangan, Purbaya, agar mampu menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pak Purbaya perlu didoakan bisa memberi stimulus yang menggerakkan ekonomi dalam negeri, plus quality spending, ditambah perbaikan proses birokrasi dan terus memerangi korupsi,” ucapnya.

Ia menambahkan, belanja negara yang tepat sasaran dan konsisten dalam reformasi birokrasi diyakini mampu meningkatkan efektivitas investasi pemerintah. Dengan langkah tersebut, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) nasional diharapkan kembali ditekan ke bawah 5 persen agar pertumbuhan ekonomi lebih efisien dan berkelanjutan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Balai Kota, Parlemen
wwwwww