Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
10 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Dari Rumah Papan Hingga Harapan yang Membeku, Kisah Seni Menghilang 21 Tahun

Dari Rumah Papan Hingga Harapan yang Membeku, Kisah Seni Menghilang 21 Tahun
Foto Seni (baju hijau) semasa waktu muda.
Minggu, 23 November 2025 15:32 WIB

JAKARTA – Di sebuah halaman rumah tua di Kecamatan Kedu, Temanggung, tumpukan batu bata yang memendam lumut menjadi simbol paling nyata dari janji yang tertahan dua puluh satu tahun. Pemiliknya, Seni (47), pergi bekerja ke Malaysia untuk membangun rumah impiannya. Namun ia justru disekap dan tak menerima gaji selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.

Minggu (23/11/2025), keluarga Seni mengisahkan kembali hari-hari sebelum kepergian itu. Kakaknya, Ismi, bersama sang istri, Walmi, menyambut kedatangan kumparan di rumah mereka.

“Bata itu dulu beliannya Seni sebelum berangkat,” kata Walmi dalam bahasa Jawa sambil menunjuk tumpukan bata di depan rumah papan yang kini tak lagi dihuni.

Rumah itu berdinding papan, berlantaikan tanah, dan menyisakan kesunyian panjang. Bata-bata yang dulu dibeli dengan penuh harapan kini tertutup lumut—pertanda waktu yang berjalan tanpa kabar.

Di dalam rumah Ismi, foto keluarga lawas terpajang: Seni, ayahnya Amat Asri, ibu sambungnya Tumirah, dan kakaknya Iswati.

“Itu foto sebelum Seni nikah. Saya waktu itu kerja di Sumatera, jadi nggak ikut foto,” ujar Ismi. 

Seni pergi ke Malaysia dalam kondisi sudah berkeluarga. Putranya, Riki Alfian, masih berusia sekitar tiga setengah tahun ketika ditinggalkan. Selama Seni hilang tanpa kabar, Riki dibesarkan keluarga besar hingga sekolah, bekerja, menikah, dan punya anak.

Riki tumbuh dengan cita-cita menjadi pemain sepak bola, namun ia menjalani hidup tanpa kehadiran ibunya di masa-masa penting itu.

Suami Seni kemudian menikah lagi karena puluhan tahun tidak ada kabar dari Malaysia. Sementara itu, kisah keberangkatan Seni ternyata bermula sederhana: ia berangkat bersama tetangganya.

“Mereka sempat bareng di Jakarta, tapi di Malaysia dapat majikan berbeda,” jelas Ismi.

Ketua RW 07, Ruwan, yang masih satu garis keluarga, menguatkan cerita itu.

“Bapaknya Seni sama ibunya saya kakak beradik,” katanya.

Menurutnya, mimpi membangun rumah adalah alasan terbesar Seni berangkat.

“Rumahnya dulu blabak, papan semua. Pasti pengin punya rumah bata. Namanya juga orang rumah tangga,” ujarnya.

Kisah Seni mencerminkan luka panjang para pekerja migran yang pergi dengan harapan sederhana, namun tak selalu kembali dengan cerita bahagia. Di halaman rumah itu, tumpukan bata berlumut tak hanya menjadi saksi bisu perjalanan Seni, tetapi juga perjuangan keluarga yang bertahan dengan harapan, meski tanpa kepastian selama dua puluh satu tahun. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Cendekia, Balai Kota
wwwwww