Hari Pahlawan di Istana Negara, Sepuluh Tokoh Lintas Zaman Resmi Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
![]() |
| Keluarga menangis di dekat foto almarhumah Marsinah seusai pemberian gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). |
JAKARTA – Upacara Hari Pahlawan di Istana Negara, Senin (10/11/2025), menjadi panggung penghormatan bagi sepuluh tokoh besar yang telah menorehkan jejak abadi dalam perjalanan bangsa. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada mereka sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian dan perjuangan di berbagai bidang.
Penganugerahan tahun ini mencerminkan keberagaman wajah perjuangan Indonesia: dari kaum buruh, ulama, negarawan, hingga tokoh militer. Nama-nama yang ditetapkan bukan hanya pahlawan di medan tempur, tetapi juga di ruang sosial, politik, dan kemanusiaan.
Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Marsinah, aktivis buruh perempuan yang gugur membela hak-hak pekerja di awal 1990-an. Kisahnya yang tragis menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan keberanian perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan.
"Penetapan Marsinah sebagai pahlawan menunjukkan bahwa perjuangan kemanusiaan adalah bagian dari semangat kepahlawanan bangsa," ujar seorang anggota Dewan Gelar Nasional.
Nama Jenderal (Purn) Soeharto juga masuk dalam daftar penerima gelar. Pemerintah menilai kiprahnya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan peran pentingnya dalam membangun stabilitas nasional menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia modern. Meski masa pemerintahannya menuai pro dan kontra, Soeharto tetap diakui sebagai sosok yang membentuk arah pembangunan bangsa selama lebih dari tiga dekade.
Tokoh lain yang juga mendapat penghargaan adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden keempat Republik Indonesia. Dikenal karena keberaniannya memperjuangkan toleransi, kebebasan beragama, dan demokrasi, Gus Dur disebut sebagai sosok pemersatu bangsa. Ia dikenang karena membela kelompok minoritas, menghapus diskriminasi, serta mengembalikan nilai kemanusiaan dalam politik nasional.
Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, tokoh militer yang berperan dalam pemulihan keamanan pasca-peristiwa 1965 dan integrasi Papua. Lalu ada Prof Mochtar Kusumaatmadja, tokoh hukum laut dunia yang menggagas konsep Wawasan Nusantara, menjadikan Indonesia diakui sebagai negara kepulauan oleh PBB.
Dari wilayah timur Indonesia, dua pemimpin kerajaan turut diabadikan: Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima dan Sultan Zainal Abidin Syah dari Tidore. Keduanya dikenang sebagai pemimpin visioner yang memperjuangkan kemerdekaan dan kesetiaan terhadap Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Sementara dari Jawa Timur, Syaikhona Muhammad Kholil, guru para pendiri Nahdlatul Ulama, diakui atas perannya membangun kesadaran keagamaan dan nasionalisme di tengah penjajahan. Ia disebut sebagai inspirator lahirnya gerakan Islam moderat di Indonesia.
Nama Rondahaim Saragih Garingging dari Simalungun, Sumatera Utara, juga menjadi bagian penting dalam daftar ini. Ia memimpin pasukan rakyat melawan penjajahan Belanda dan membangun aliansi pertahanan antarkerajaan di wilayah Sumatera Timur.
Sepuluh nama tersebut kini resmi diabadikan dalam sejarah nasional, mewakili keberanian dalam berbagai bentuk: memimpin, mengajar, menulis, hingga melawan dengan suara dan tindakan.
Penganugerahan gelar tahun ini tak hanya menandai penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga pesan moral bagi generasi muda: bahwa pahlawan tidak selalu mereka yang membawa senjata, melainkan siapa pun yang berani membela kebenaran dan kemanusiaan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Balai Kota |











