Ironi di Perbatasan Riau–Sumbar: Warga Kampar Pilih Tandu Pasien daripada Lewati Jalan Kabupaten
![]() |
KAMPAR – Sebuah video yang memperlihatkan perjuangan warga Desa Tanjung Permai, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, menandu pasien melewati jalan berlumpur menuju fasilitas kesehatan di Sumatera Barat viral di media sosial. Peristiwa yang terjadi Kamis (16/10/2025) itu menggambarkan betapa buruknya akses kesehatan di daerah pedalaman Kampar.
Dalam video berdurasi dua menit yang tersebar di berbagai platform, tampak belasan warga bergantian menandu seorang pasien di atas tandu kayu sederhana. Mereka berjalan perlahan di jalan tanah licin yang digenangi lumpur, menembus hutan dan tanjakan curam. Tujuan mereka bukan puskesmas di wilayah sendiri, melainkan fasilitas kesehatan di provinsi tetangga, karena akses ke sana jauh lebih mudah dijangkau.
“Jalan ke arah Kampar terlalu jauh dan tidak bisa dilewati kendaraan. Kalau ke Sumbar lebih dekat, walau tetap berat jalannya,” ujar seorang warga dalam video tersebut.
Warga mengaku, kondisi jalan menuju pusat kecamatan sudah lama rusak berat. Saat musim hujan, jalur tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang tidak bisa dilalui mobil atau motor. “Kami sering gotong orang sakit seperti ini, tidak ada pilihan lain,” tambah warga lainnya.
Aksi solidaritas ini kembali membuka luka lama soal ketimpangan infrastruktur di wilayah perbatasan Riau–Sumatera Barat. Warga berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi jalan mereka agar pelayanan dasar seperti kesehatan bisa dijangkau tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalan.
“Kami minta perhatian pemerintah. Jalan ini satu-satunya akses kalau ada warga yang sakit. Kalau dibiarkan begini terus, bisa saja nanti nyawa melayang di tengah jalan,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kampar maupun Pemerintah Provinsi Riau terkait kondisi infrastruktur di daerah perbatasan tersebut.
Pemerhati kebijakan publik menilai kejadian ini merupakan bukti lemahnya pemerataan pembangunan di Riau bagian timur. “Kesehatan adalah hak dasar warga negara. Kalau warga harus menandu pasien puluhan kilometer, berarti ada sistem yang gagal di situ,” ujar seorang pengamat dari Pekanbaru.
Tragedi di Tanjung Permai menjadi cerminan nyata bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah pelosok belum berjalan seimbang dengan daerah perkotaan. Akses kesehatan yang layak seharusnya tak lagi menjadi perjuangan fisik warga di abad ini. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Kategori | : | Warga Bertuah, Binawidya |











