Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Fenomena Alam di Danau Toba, Ribuan Ikan Mati Diduga Akibat Krisis Oksigen dan Ledakan Gas

Fenomena Alam di Danau Toba, Ribuan Ikan Mati Diduga Akibat Krisis Oksigen dan Ledakan Gas
Selasa, 29 Juli 2025 20:08 WIB

SAMOSIR – Ribuan ikan mendadak mengambang mati di permukaan Danau Toba. Air yang biasanya jernih berubah keruh, memunculkan kekhawatiran dan spekulasi luas di media sosial. Banyak yang menyangka peristiwa ini akibat pencemaran atau limbah. Namun, penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengarah pada proses alamiah yang jarang diketahui publik.

Peneliti BRIN dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Dr. Ir. Lukman, M.Si., menyebutkan bahwa peristiwa ini kemungkinan besar disebabkan oleh fenomena pembalikan massa air (*turnover*), yakni pergerakan air dari dasar ke permukaan yang membawa serta gas-gas beracun.

“Gas seperti hidrogen sulfida, metana, dan karbon dioksida bisa ikut naik ke permukaan saat terjadi *turnover*. Ini yang menyebabkan air keruh sekaligus membuat ikan kehabisan oksigen dan mati,” ujarnya, Selasa (29/7/2025). 

Peristiwa ini terjadi di wilayah Pangururan, yang merupakan perairan tertutup dengan kedalaman sekitar 50 meter. Karena tidak ada banjir atau aliran sungai keruh, air keruh diyakini berasal dari bawah danau. Bahan organik seperti sisa pakan ikan dan kotoran yang menumpuk di dasar danau juga berperan besar dalam menciptakan kondisi anoksik (tanpa oksigen).

Ketika gas beracun ikut naik ke permukaan, ikan-ikan yang berada di karamba menjadi korban karena tidak dapat bergerak menjauh. Akibatnya, kematian massal pun terjadi.

“Fenomena ini tidak bisa disepelekan. Selain menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya ikan, juga berisiko merusak keseimbangan ekosistem danau secara keseluruhan,” jelas Lukman.

Ia juga menekankan perlunya regulasi tegas terkait penggunaan danau sebagai area budidaya. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain pembatasan jumlah karamba, zonasi perairan berdasarkan daya dukung ekologis, serta penerapan teknologi budidaya yang ramah lingkungan.

“Jika tidak dikendalikan, kondisi dasar danau akan terus memburuk dan menimbulkan krisis ekologis berkepanjangan,” ujarnya.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa pengelolaan Danau Toba harus mengutamakan keberlanjutan. Dalam upaya menjadikannya destinasi pariwisata unggulan nasional, aspek lingkungan tak boleh diabaikan. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Balai Kota, Lingkungan
wwwwww