Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
2
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
22 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
3
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
11 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
6
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
11 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

BPK Temukan Kunker Fiktif Rp900 Miliar, FITRA: Bukti Buruknya Tata Kelola Anggaran DPR, Korupsi Berjamaah

BPK Temukan Kunker Fiktif Rp900 Miliar, FITRA: Bukti Buruknya Tata Kelola Anggaran DPR, Korupsi Berjamaah
Sekjen FITRA, Yenny Sucipto saat menggelar dialog di Gedung DPR beberapa waktu yang lalu. (istimewa)
Kamis, 12 Mei 2016 16:56 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Forum Transparasi untuk Anggaran (FITRA) mendorong KPK untuk menindaklanjuti hasil temuan BPK soal anggaran dana kunker fiktif senilai Rp900 miliar.

Sekjen FITRA Yenni Sucipto saat dikonfirmasi GoNews Group (Legislatif.co) menginginkan agar kasus atau temuan tersebut dibawa ke proses hukum. "Selain itu,kita juga mendorong agar Fraksi-fraksi menghukum anggotanya yang tidak melaporkan hasil kunker berupa laporan keuangan dan program," ujar Yenny, Kamis (12/05/2016) siang.

Menurut Yenny, metode keuangan Kunker berupa lumsum juga harus dirubah, karena menurutnya hanya menguntungkan anggota DPR saja.

"Metode model ini tidak akuntabel. Moratorium dan reformasi anggaran di DPR menjadi kebutuhan yang mendesak," jelasnya lagi.

Yenni menambahkan, berdasarkan dari hasil kerja BPK dalam audit IHPS 2014/2015, telah menemukan permasalahan dalam pengelolaan dana Kunjungan Kerja DPR senilai Rp. 945.465.000.000. Beberapa modus diantaranya adalah banyaknya anggota DPR yang tidak melaporkan hasil kunjungan kerja baik laporan keuangan maupun laporan kegiatan.

"Alur pertanggungjawaban seharusnya, anggota melaporkan ke Sekjen DPR dan kemudian dilakukan audit. Permasalahan ini setidaknya membuktikan pertama, anggota DPR tidak berkomitmen dalam laporan Kunker, sehingga menguatkan bahwa Kunker hanya Plesiran Semata. Ini pemborosan anggaran," tukasnya.

Bukti keedua, kata Yenny, adanya kelemahan internal DPR dalam transparansi dan akuntabilitas yaitu seharusnya Sekjen memaksa anggota, melalui Fraksi atau Komisi untuk melaporkan. Kelemahan ini juga tanggungjawab Sekjen DPR.

"Yang ketiga, Fraksi secara politik juga kurang berkomitmen mendorong akuntabilitas politik di DPR, seharusnya ini bentuk menjaga lembaga DPR yg kepercayaannya terus tergerus dimata masyarakat," pungkasnya. ***

wwwwww