Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
6 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Otomotif

Bukan Rusak Mesin, Ini Ancaman Nyata B50 Bagi Kendaraan Komersial Berusia Tua

Bukan Rusak Mesin, Ini Ancaman Nyata B50 Bagi Kendaraan Komersial Berusia Tua
Sampel Biodiesel B50 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Rest Area KM 57 Tol Jakarta - Cikampek, Karawang, Jawa Barat, 9 Juli 2026. (tempo/imam sukamto)
Minggu, 12 Juli 2026 07:18 WIB

JAKARTA - Program biodiesel B50 resmi diluncurkan oleh pemerintah dengan mekanisme pencampuran biodiesel kelapa sawit sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Keputusan yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar ini turut memicu kekhawatiran masyarakat soal ancaman kerusakan mesin kendaraan.

Menjawab keresahan publik, Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak menegaskan belum ada hasil uji jalan (road test) dari sejumlah produsen truk yang memperlihatkan adanya kerusakan signifikan dari pemakaian B50.

"Untuk mesin logistik, secara umum B50 tidak serta-merta merusak mesin diesel modern, dan hasil road test dari beberapa produsen truk belum menunjukkan gejala kerusakan berarti," tutur Ishak kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Dampak Signifikan pada Komponen Sekunder

Meski uji coba menunjukkan hasil positif, industri otomotif sebelumnya sempat meminta masa transisi supaya teknologi kendaraan dan infrastruktur pendukung dipastikan benar-benar siap sebelum implementasi penuh dijalankan. Dampak yang lebih sering terjadi bukanlah kerusakan mesin secara langsung, melainkan gangguan pada berbagai komponen pendukung.

Tingginya campuran biodiesel membawa konsekuensi logis yakni peningkatan kebutuhan perawatan. Kondisi ini sangat rentan bagi kendaraan logistik yang telah berusia tua, dengan rincian risiko sebagai berikut:

  • * Penumpukan Sludge: Endapan memicu filter solar lebih cepat kotor.
  • * Kadar Air Naik: Terjadi peningkatan kandungan air pada sistem bahan bakar.
  • * Injektor Aus: Mempercepat tingkat keausan injektor mesin.
  • * Boros BBM: Konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros sekitar 1-3 persen jika disandingkan dengan penggunaan B40.

"Risikonya akan lebih besar pada pada truk tua karena seal dan selang berbahan karet konvensional bisa mengembang atau retak terkena biodiesel pekat, sehingga perlu diganti ke material sintetis," tegasnya.

Hindari Downtime Kendaraan

Kunci keberhasilan penggunaan bahan bakar baru ini terletak pada kedisiplinan operator kendaraan melakukan perawatan berkala. Jadwal penggantian filter dan oli harus dipercepat, selaras dengan pemeriksaan rutin terhadap kondisi seal dan injektor agar tidak terjadi kerusakan langsung pada mesin.

"Kalau jadwal perawatan dipenuhi, sejauh ini belum ditemukan pengaruh langsung terhadap kerusakan mesin. Namun jika diabaikan, risikonya bukan mesin langsung rusak, melainkan meningkatnya downtime kendaraan dan biaya perawatan," tutupnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Otomotif
wwwwww