Bukan Rusak Mesin, Ini Ancaman Nyata B50 Bagi Kendaraan Komersial Berusia Tua
![]() |
| Sampel Biodiesel B50 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Rest Area KM 57 Tol Jakarta - Cikampek, Karawang, Jawa Barat, 9 Juli 2026. (tempo/imam sukamto) |
JAKARTA - Program biodiesel B50 resmi diluncurkan oleh pemerintah dengan mekanisme pencampuran biodiesel kelapa sawit sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Keputusan yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar ini turut memicu kekhawatiran masyarakat soal ancaman kerusakan mesin kendaraan.
Menjawab keresahan publik, Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak menegaskan belum ada hasil uji jalan (road test) dari sejumlah produsen truk yang memperlihatkan adanya kerusakan signifikan dari pemakaian B50.
"Untuk mesin logistik, secara umum B50 tidak serta-merta merusak mesin diesel modern, dan hasil road test dari beberapa produsen truk belum menunjukkan gejala kerusakan berarti," tutur Ishak kepada inilah.com, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Dampak Signifikan pada Komponen Sekunder
Meski uji coba menunjukkan hasil positif, industri otomotif sebelumnya sempat meminta masa transisi supaya teknologi kendaraan dan infrastruktur pendukung dipastikan benar-benar siap sebelum implementasi penuh dijalankan. Dampak yang lebih sering terjadi bukanlah kerusakan mesin secara langsung, melainkan gangguan pada berbagai komponen pendukung.
Tingginya campuran biodiesel membawa konsekuensi logis yakni peningkatan kebutuhan perawatan. Kondisi ini sangat rentan bagi kendaraan logistik yang telah berusia tua, dengan rincian risiko sebagai berikut:
- * Penumpukan Sludge: Endapan memicu filter solar lebih cepat kotor.
- * Kadar Air Naik: Terjadi peningkatan kandungan air pada sistem bahan bakar.
- * Injektor Aus: Mempercepat tingkat keausan injektor mesin.
- * Boros BBM: Konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros sekitar 1-3 persen jika disandingkan dengan penggunaan B40.
"Risikonya akan lebih besar pada pada truk tua karena seal dan selang berbahan karet konvensional bisa mengembang atau retak terkena biodiesel pekat, sehingga perlu diganti ke material sintetis," tegasnya.
Hindari Downtime Kendaraan
Kunci keberhasilan penggunaan bahan bakar baru ini terletak pada kedisiplinan operator kendaraan melakukan perawatan berkala. Jadwal penggantian filter dan oli harus dipercepat, selaras dengan pemeriksaan rutin terhadap kondisi seal dan injektor agar tidak terjadi kerusakan langsung pada mesin.
"Kalau jadwal perawatan dipenuhi, sejauh ini belum ditemukan pengaruh langsung terhadap kerusakan mesin. Namun jika diabaikan, risikonya bukan mesin langsung rusak, melainkan meningkatnya downtime kendaraan dan biaya perawatan," tutupnya. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Otomotif |








