Angkutan Retail Tembus 123 Ribu Ton, KAI Kokohkan Distribusi Nasional
![]() |
| Angkutan Retail PT KAI. (Foto: KAI) |
Penulis: Bimo Putro Prihandoko
Jika dibandingkan Semester I 2024 yang mencapai 101.617 ton, pertumbuhannya bahkan melonjak 21,84 persen. Tren itu menjadi sinyal bahwa dunia usaha semakin percaya pada kereta api sebagai moda distribusi yang efisien, terjadwal, dan mampu mengangkut barang dalam volume besar.
Rata-rata pengiriman retail sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 20.635 ton setiap bulan. Angka tersebut melampaui rata-rata Semester I 2025 sebesar 19.642 ton maupun Semester I 2024 yang berada di kisaran 16.936 ton per bulan.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan perubahan pola distribusi nasional yang mulai mengarah pada sistem logistik yang lebih modern dan efisien.
"Pertumbuhan angkutan retail menunjukkan kebutuhan pasar terhadap distribusi yang lebih terencana, efisien, dan mampu menjangkau berbagai kota terus meningkat. Kereta api semakin memiliki ruang strategis dalam mendukung aktivitas pelaku usaha maupun UMKM," ujar Anne dalam siaran pers, Senin (6/7).
Selama ini layanan angkutan retail KAI dijalankan melalui skema Business to Business (B2B) bersama berbagai perusahaan logistik. Barang dari pelaku usaha maupun UMKM terlebih dahulu dikonsolidasikan oleh mitra, kemudian diangkut menggunakan kereta api menuju kota tujuan sebelum diteruskan melalui jaringan distribusi darat hingga ke tangan penerima.
Model tersebut menjadikan kereta api memainkan peran penting pada jalur distribusi antarkota atau middle-mile, sedangkan kendaraan darat tetap menjadi penghubung pada tahap awal (first-mile) dan akhir (last-mile).
Menurut Anne, kombinasi tersebut menciptakan rantai distribusi yang semakin kompetitif karena setiap moda transportasi menjalankan fungsi sesuai keunggulannya. Di tengah tingginya biaya logistik nasional, perkembangan ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kenaikan volume angkutan.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut masih lebih tinggi dibanding rata-rata global sekitar 13 persen, sementara negara-negara dengan sistem logistik paling efisien mampu menekan biaya hingga sekitar delapan persen terhadap PDB.
Dengan nilai PDB Indonesia tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp23.821,1 triliun, biaya logistik nasional diperkirakan mencapai lebih dari Rp3.400 triliun setiap tahun.
Dalam simulasi makro, apabila efisiensi sistem logistik nasional dapat meningkat hingga 30 persen, potensi penghematan secara teoritis dapat menyentuh kisaran Rp1.021 triliun per tahun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa setiap peningkatan efisiensi distribusi akan memberikan dampak luas terhadap harga barang, stabilitas pasokan, daya saing industri, hingga kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan jaringan kereta api sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas ekonomi nasional sekaligus menekan biaya distribusi.
Bagi KAI, momentum pertumbuhan angkutan retail menjadi peluang untuk memperluas peran kereta api sebagai tulang punggung distribusi barang antarkota, terutama pada rute-rute dengan volume tinggi, jadwal tetap, dan jarak menengah hingga jauh.
Anne menilai penguatan logistik berbasis rel bukan sekadar urusan transportasi, melainkan bagian dari strategi besar membangun rantai pasok nasional yang lebih sehat.
"Semakin banyak barang yang menggunakan kereta api pada perjalanan utama antarkota, semakin besar peluang Indonesia menghadirkan sistem distribusi yang efisien, kompetitif, serta memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat," katanya.
Ke depan, KAI membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bersama pemerintah, kawasan industri, perusahaan logistik, hingga pelaku usaha di berbagai daerah.
Penguatan simpul logistik, integrasi antarmoda, serta optimalisasi layanan first-mile dan last-mile diyakini menjadi kunci agar distribusi berbasis rel semakin dominan dalam ekosistem logistik nasional.
Pertumbuhan angkutan retail Semester I 2026 menjadi penanda bahwa rel kereta tidak lagi hanya menghubungkan satu kota dengan kota lain. Di atas rel yang sama, efisiensi bergerak, biaya distribusi ditekan, dan harapan baru bagi daya saing ekonomi Indonesia perlahan menemukan jalurnya. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | Kampus, Pasar & Niaga, Binawidya |











