Awas Penipuan Siber Era Baru Sasar Pekerja Usia 25 Hingga 49 Tahun
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Ancaman penipuan digital di Indonesia telah bertransformasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk memanipulasi kondisi psikologis korban. Menghadapi modus yang makin canggih ini, pemerintah pusat, daerah, lembaga keuangan, dan industri teknologi wajib merapatkan barisan melalui kolaborasi lintas sektor.
Komitmen kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Festival Aman Digital 2026 yang digelar oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Balai Kota DKI Jakarta. Forum yang mengangkat tema Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional ini dihadiri berbagai pihak strategis, termasuk Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) yang diwakili oleh PINTU.
Bukan Sekadar Peretasan Sistem
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi memberikan peringatan tegas mengenai pergeseran target serangan siber yang kini menjadikan pikiran manusia sebagai celah utama.
"Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering (rekayasa sosial), kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi," ungkapnya.
Hal ini diperkuat dengan pemaparan Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi mengenai demografi korban yang paling rentan terhadap taktik manipulatif tersebut.
"Kelompok usia 25–49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital. Scam (penipuan) dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna," jelasnya.
Sinergi Edukasi Berkelanjutan
Sebagai langkah antisipasi, Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro menggaungkan gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber. Upaya besar ini membutuhkan partisipasi aktif dari aparat penegak hukum, dunia usaha, media, serta masyarakat luas agar literasi siber berhasil diterapkan secara menyeluruh.
Pelaku industri turut mengambil peran penting dalam gerakan ini. Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI sekaligus Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno memaparkan bahwa pihaknya aktif mengedukasi masyarakat, salah satunya lewat kampanye Bulan Literasi Kripto yang berjalan sejak 2023 bersama OJK.
"Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama untuk meningkatkan daya kritis masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital," ujarnya.
Melalui keterlibatan di Festival Aman Digital 2026, ABI mempertegas komitmen industri untuk memastikan teknologi blockchain dan aset kripto dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara aman, bijak, dan bertanggung jawab. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Keuangan |











