Mampu Ubah Nasib, Anak Pengayuh Becak dari Semarang Ini Kini Jadi Peneliti Top PBB
![]() |
| Raeni kini sudah jadi Asisten Profesor di Universitas Birmingham Inggris. Foto: Instagram @raeni_raeni |
JAKARTA - Keterbatasan latar belakang keluarga terbukti bukan menjadi penghalang untuk meraih prestasi mendunia. Seorang putri pengayuh becak asal Indonesia kini berhasil menduduki posisi sebagai staf pengajar sekaligus peneliti di sektor keuangan iklim pada universitas ternama di Britania Raya.
Nama Raeni dulu sempat jadi sorotan karena saat momen wisuda ia diantar dengan becak sang ayah. Saat itu, ia baru lulus S1 dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) tahun 2014. Siapa sangka, kisah dan prestasinya terus berlanjut hingga ke negara Inggris bahkan telah menyelesaikan S3 dari Birmingham University yang merupakan kampus top 11 di Inggris dan 76 dunia versi QS WUR 2026.
Mengemban Tugas Riset Global
Mengutip laman resmi Universitas Birmingham, Raeni kini menjabat sebagai Asisten Profesor Departemen Akuntansi, University of Birmingham. Dirinya memegang peranan penting dalam aktivitas riset tingkat tinggi, terutama yang berkaitan dengan isu lingkungan global.
Beberapa rekam jejak akademik dan prestasi internasional yang berhasil diukirnya antara lain:
- * Fokus Penelitian: Bertugas dalam penelitian soal pengembangan kerangka akuntabilitas untuk perubahan iklim, dengan penekanan khusus pada keuangan iklim.
- * Pengamat Lingkungan PBB: Terpilih sebagai peninjau ahli untuk Global Environmental Outlook yang akan datang, sebuah laporan unggulan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
- * Penghargaan CSEAR UK: Menerima Penghargaan Rob Gray Emerging Scholar dan Hadiah Peringatan Reg Mathews.
- * Peninjau Jurnal: Aktif berkontribusi sebagai peninjau ad hoc untuk jurnal-jurnal bergengsi internasional.
Pondasi Awal dan Beasiswa Prestisius
Perjalanan ini dimulai dari bawah. Untuk menempuh S1, ia mengandalkan beasiswa Bidikmisi. Dukungan penuh dari keluarga menjadi modal utama ketika sang ayah merelakan dana pesangonnya demi membelikan perangkat komputer.
"Untungnya saya bersyukur sekali mempunyai orang tua yang bagi saya sangat luar biasa. Bapak ketika beliau keluar dari pekerjaannya dan pesangonnya digunakan untuk membelikan laptop saya untuk kuliah sebagai hadiah karena beliau sudah promise (janji) kalau ketika akan nanti kalau saya lulus beasiswa saya boleh dibelikan laptop," ujarnya.
Prestasi cemerlang di tingkat sarjana membuka pintu beasiswa penuh dari pucuk pimpinan negara untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
"S2 ada namanya beasiswa presiden yang mungkin itu seleksinya sangatlah ketat dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan. Yang Maha Kuasa memberikan amanah itu salah satunya kepada saya," katanya.
Riwayat Karier Sebelum Jadi Asisten Profesor
Setelah lulus S1 dari Unnes, ia mengambil gelar Msc dalam Akuntansi dan Keuangan Internasional di Universitas Birmingham dan lulus dengan predikat istimewa, lalu melanjutkan PhD Akuntansi di kampus yang sama. Di Inggris, ia sempat menjadi anggota Madya Bidang Pendidikan Tinggi (AFHEA), Akademi Pendidikan Tinggi, Inggris.
Ia juga tercatat pernah menjadi pengajar atau dosen non-PNS di jurusan Pendidikan Ekonomi, Unnes pada 2016. Serta pernah menjadi peneliti pascadoktoral di Stockholm Environment Institute di York untuk memberikan kontribusi signifikan pada proyek UK Partnering for Accelerated Climate Transitions (UK PACT) di Indonesia. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Kampus |







