Curhat Mahfud MD Bawa Ribuan Halaman Rekomendasi Polri Berujung Buntu
![]() |
| Pakar hukum tata negara, Mahfud MD dalam kanal Youtube Mahfud MD Official. |
JAKARTA - Langkah membenahi tubuh Polri menemui hambatan besar. Eks Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD secara blak-blakan menyoroti ketakutan pemerintah dalam menjalankan agenda reformasi Polri.
Puncak kekecewaan Eks Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD memuncak ketika Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) tidak direspons, namun DPR RI malah buru-buru mengesahkan Undang-Undang kepolisian.
"Saya tidak tahu apa yang ditakuti, tapi saya merasakan bahwa kok takut sih hanya melakukan itu gitu loh. Seperti hal yang sudah jelas menjadi public common sense gitu ya, kok tidak dilakukan secara bersama-sama. Kayak ada yang ditakuti gitu loh," sebut Mahfud dalam wawancara Gaspol Kompas.com, Selasa (16/6/2026).
- Ancaman Obyek Reformasi
Mahfud merasa ada tekanan tak kasat mata. "Kayak ada dalam tekanan gitu loh, kayak ada dalam ancaman dari orang yang akan direformasi gitu loh. Sehingga ya, ya apa gunanya kalau kayak gini?" tuturnya.
Di pusaran informasi yang memuat tajuk seperti Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo Artikel Kompas.id, ia menggarisbawahi posisinya yang netral.
"Entah takut pada apa atau takut sama siapa saya tidak tahu. Tapi saya melihatnya kok seperti takut sih melakukan perubahan-perubahan yang jelas baik, gitu, diarahkan untuk lebih baik dari situasi sekarang kok enggak ada perubahan apa-apa," paparnya.
- Sejarah Sebagai Pengingat
Ia mencontohkan sejarah tumbangnya Presiden, Soeharto tahun 1998 sebagai bukti bahwa kekuasaan butuh dukungan publik. "Kan tidak akan statis tuh, saatnya akan muncul tuh," ucapnya mengingatkan.
- Keraguan Sejak Hari Pertama
Sikap pesimis Mahfud sudah terbangun sedari awal. "Terus terang sejak awal, sejak awal saya memang tidak yakin pemerintah ini mau sungguh-sungguh melakukan reformasi. Bahkan, mungkin bukan hanya tidak mau, mungkin takut. Kalau saya melihat, gejalanya takut sih menghadapi apa yang di depan itu," ungkapnya.
Perjalanan Tim Reformasi Polri bermula dari panggilan bulan September 2025. "Itu pun lama lho. Awal September saya dihubungi, enggak ada kabarnya, lalu rakyat yang ribut ‘Lho katanya bikin reformasi’, ribut-ribut lalu dibentuk kan bulan November (2025). Bulan November diajukan lagi, pengarahnya ‘buat saja, nanti kalau sudah jadi 3 bulan lapor’," katanya membeberkan.
"(Sudah) 3 bulan (selesai menyusun) lapor, enggak dipanggil-panggil juga sampai rakyat ribut. ‘Mana tuh hasilnya?’. Saya bilang, enggak tahu dong,kan sudah lapor ke presiden tapi enggak dipanggil gitu. Lalu baru dipanggil gitu," keluhnya.
- Hasil Pertemuan Istana
Laporan diserahkan langsung kepada Kepala Negara, yakni Presiden, Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa (5/5/2025). "Tapi, sesudah itu, saya lihat gejalanya enggak ada gerak apapun (dari pemerintah)," jelasnya kecewa.
Penugasan bagi Menteri Hukum juga pupus. "Enggak ada follow up-nya (rekomendasi dari Tim Reformasi Polri), tiba-tiba sudah diusulkan ke situ (DPR RI lalu disahkan)," tambahnya.
- Dokumen Ribuan Halaman Jadi Sampah
"Ya mereka sejak awal sikapnya begitu, ya sudah, saya sudah merasa bahwa ini hanya lip service saja. Tidak sungguh-sungguh. Tapi enggak apa-apa, saya sudah berhasil membuktikan bahwa saya tidak omon-omon lho," tegasnya.
"Ketika saya kritik polisi lalu saya diminta masuk untuk memberikan usul, saya masuk dan bertemu dengan para jenderal polisi juga, mari kita berembuk ketemu lah, ada hasilnya. Lalu bawa hasilnya, mungkin 3.000 halaman, dianggaplah, ‘sudah dimasukkan saja ke tong sampah’, begitu emang teorinya dalam hukum," urainya menggambarkan kekecewaan.
Realitas politik mengalahkan kajian hukum. "Anda punya hafal ilmu hukum dari tujuh perpustakaan yang jumlah bukunya puluhan ribu, kalau politik mengatakan semua aturan hukum yang ada di perpustakaan itu batal, diganti dengan ini, bubar semua. Jadi sampah. Nah, kira-kira ini yang terjadi," bebernya.
Meski begitu, Mahfud tetap lega usahanya terekam sejarah. "Saya senang bahwa saya berhasil membuktikan bahwa saya tidak cuma omon-omon. Saya masuk dan saya buka ke publik, kan gitu kan. Nah, itu sudah cukup bagi saya, karena mengharapkan baik dari situasi seperti sekarang sama dengan Anda mengharapkan kuda bertanduk. Enggak mungkin kan?" tutupnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kompas.com |
| Kategori | : | Balai Kota, Parlemen |











