KAI Uji B50, Kereta Api Bersiap Tinggalkan Solar Konvensional
![]() |
| Stasiun Kereta Api Indonesia. (Ilustrasi/Ist) |
Penulis: Bimo Putro Prihandoko
Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional menuju energi yang lebih bersih sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Direktur Utama Kerata Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengatakan penggunaan biodiesel secara bertahap dari B0 hingga B50 menunjukkan kesiapan sektor perkeretaapian mengikuti agenda transformasi energi pemerintah.
“Transformasi energi tidak hanya berbicara soal pergantian bahan bakar, tetapi bagaimana memastikan layanan transportasi tetap aman, andal, dan efisien sambil mengurangi emisi,” kata Bobby dalam keterangannya, Minggu (14/6).
KAI mencatat perjalanan transisi energi telah berlangsung hampir satu dekade.
Penggunaan biodiesel meningkat dari B0 pada 2017, kemudian B20, B30, B35, hingga B40 yang saat ini digunakan dalam operasional kereta api.
Tahun ini, perusahaan mulai menguji implementasi B50 sebelum diterapkan secara lebih luas.
Pengujian B50 dilakukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
KAI menggunakan lokomotif CC206 yang menarik rangkaian KA Sembrani untuk mengukur performa mesin dan konsumsi bahan bakar.
Selain itu, pengujian juga dilakukan pada genset kereta penumpang KA Bogowonto.
Evaluasi mencakup konsumsi bahan bakar, emisi, performa mesin, hingga ketahanan operasional dalam penggunaan jangka panjang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan seluruh proses dilakukan secara bertahap karena operasional kereta api memiliki standar keselamatan yang ketat.
“Kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel melalui pengujian teknis dan evaluasi menyeluruh agar tidak mengganggu keandalan layanan kepada masyarakat maupun sektor logistik,” ujar Anne.
Menurut Anne, hasil pengujian saat ini masih dalam tahap pemantauan sebelum menjadi dasar pengambilan keputusan untuk implementasi yang lebih luas.
KAI memperkirakan penggunaan biodiesel B50 dapat menurunkan emisi karbon hingga 133.676 ton CO₂e dalam periode program dekarbonisasi perusahaan 2025–2030.
Angka tersebut menjadi kontribusi terbesar dalam target pengurangan emisi KAI yang mencapai 166.873 ton CO₂e melalui berbagai program efisiensi energi dan konservasi lingkungan.
Selain pengurangan emisi, penggunaan biodiesel juga diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional karena sebagian bahan bakunya berasal dari sumber daya dalam negeri.
Transportasi Rel Jadi Tumpuan
Pemerintah menempatkan sektor transportasi sebagai salah satu kontributor penting dalam upaya penurunan emisi nasional.
Dalam konteks itu, kereta api dinilai memiliki keunggulan karena mampu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dengan konsumsi energi yang relatif lebih efisien.
Data KAI menunjukkan hingga 5 Juni 2026 perusahaan telah menggunakan sekitar 95,39 juta liter BBM subsidi atau 44,51 persen dari total kuota tahunan sebesar 214,34 juta liter.
Bobby menegaskan, transformasi energi di lingkungan KAI tidak boleh mengorbankan kualitas layanan publik.
“Kereta api harus tetap menjadi moda transportasi yang aman, terjangkau, dan andal. Karena itu transisi menuju energi yang lebih bersih dilakukan secara bertahap dan berbasis hasil pengujian,” ujarnya.
Jika implementasi B50 berjalan sesuai hasil evaluasi, sektor perkeretaapian akan menjadi salah satu moda transportasi nasional pertama yang menjalankan penggunaan biodiesel campuran tinggi secara luas dalam operasional hariannya. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | Kampus, Pasar & Niaga, Binawidya |







