Saling Serang di Timur Tengah Berujung Gempuran ke Pangkalan F-35 Yordania
![]() |
| Ilustrasi (inews.id) |
JAKARTA - Gesekan bersenjata antara pasukan Iran dan militer Amerika Serikat kembali mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah. Baku tembak mematikan yang terjadi, Rabu (10/6/2026), menjadi titik bentrok paling masif pascapemberlakuan kesepakatan gencatan senjata 8 April silam.
Adu kekuatan ini bermula dari pergerakan Komando Pusat AS (Centcom) yang mengarahkan moncong senjatanya ke sejumlah infrastruktur vital pertahanan Iran. Rangkaian serangan militer Washington tersebut difokuskan untuk melumpuhkan fasilitas pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan titik radar pengawasan yang memantau perairan strategis di sekitar Selat Hormuz.
Langkah ofensif ini merupakan tindakan balasan atas kerugian alat utama sistem persenjataan yang dialami militer Amerika Serikat di kawasan semenanjung Arab.
"Helikopter AH-64 Apache AS ditembak jatuh di lepas pantai Oman oleh Iran sehingga AS berhak untuk membalas," ungkap Presiden AS, Donald Trump.
Serangan terhadap infrastruktur radar tersebut langsung memicu reaksi berantai dari otoritas militer Teheran. Tanpa menunda waktu, serangkaian proyektil diarahkan tepat ke 22 pangkalan militer Amerika Serikat yang berdiri di Timur Tengah. Gempuran balasan ini dirancang untuk memberikan pukulan taktis, terbukti dengan dijadikannya hanggar jet tempur F-35 di Yordania sebagai salah satu target utama penghancuran.
Membaca potensi perluasan konflik, Kementerian Luar Negeri Iran melontarkan peringatan tajam kepada negara-negara yang mendiami wilayah pesisir selatan Teluk Persia. Teheran menuntut negara-negara tersebut untuk tidak membiarkan wilayah kedaulatannya dipakai sebagai batu loncatan agresi militer Amerika Serikat.
"Sekali lagi mengingatkan semua negara di kawasan, terutama negara-negara di pantai selatan Teluk Persia, mengenai tanggung jawab hukum dan moral untuk mencegah penggunaan wilayah dan fasilitas mereka oleh Angkatan Darat AS dan Israel guna merencanakan, mengatur, melakukan, atau mendukung tindakan agresif terhadap Iran," jelas rilis resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Kementerian menekankan bahwa serangan darat maupun udara yang difasilitasi oleh negara tetangga akan dianggap sebagai ancaman yang sah untuk ditindak tegas. Iran berhak sepenuhnya membumihanguskan setiap pangkalan atau fasilitas logistik pendukung yang berafiliasi dengan musuh.
Lebih lanjut, manuver militer yang diperagakan Amerika Serikat dikecam keras sebagai bentuk pelecehan terhadap Piagam PBB. Pemerintah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Dewan Keamanan, untuk segera turun gelanggang menjaga keamanan internasional dari pihak yang terus menyulut api peperangan.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inews.id |
| Kategori | : | Kuliner |











