Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Gelanggang
12 jam yang lalu
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
2
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
3
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru Selidiki Akar Pohon Terbakar Usai Timpa Mobil di Jalan Jenderal Sudirman
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru Selidiki Akar Pohon Terbakar Usai Timpa Mobil di Jalan Jenderal Sudirman
4
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
5
Gagal Bawa Pulang Tiga Poin dari Bekasi, Pelatih PSPS Pekanbaru Apresiasi Mentalitas Skuad Askar Bertuah
Gelanggang
12 jam yang lalu
Gagal Bawa Pulang Tiga Poin dari Bekasi, Pelatih PSPS Pekanbaru Apresiasi Mentalitas Skuad Askar Bertuah
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Gema Goeyardi Bongkar Penyebab Rupiah Melemah, Ada Intervensi Finansial Poros Barat

Gema Goeyardi Bongkar Penyebab Rupiah Melemah, Ada Intervensi Finansial Poros Barat
CEO dan pendiri perusahaan riset pasar keuangan Astronacci International, Prof Gema Goeyardi. (Foto: ANTARA/HO-Astronacci International).
Selasa, 09 Juni 2026 14:30 WIB

JAKARTA - Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level terendah 5.400-an serta melemahnya nilai tukar rupiah di atas Rp18.100/US$ memicu sorotan tajam. Penurunan drastis ini dinilai janggal mengingat seluruh data riil perekonomian nasional justru memperlihatkan kinerja yang sangat solid.

"Ada tangan-tangan jahat yang mengontrol kekacauan yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Mari kita bongkar sama-sama," kata Founder dan CEO Astronacci International, Prof Gema Goeyardi dalam siaran YouTube @astronacciinternational, Selasa (9/6/2026).

Gema memetakan tiga area krusial yang dihadapi pertahanan ekonomi nasional, yakni tantangan internal, eksternal, dan skema Indonesia dalam serangan (Indonesia Under Attack).

Evaluasi internal diakui Gema telah disampaikannya secara langsung dalam rapat resmi di MPR, agenda diskusi bersama Doktor Ibas, hingga berbagai tayangan podcast. Di sisi eksternal, berkembangnya opini terkait kebijakan Presiden AS Donald Trump dianggap tidak menyentuh akar masalah utama.

Anomali paling kentara terlihat pada sektor pasar modal dan nilai tukar yang terus ditekan secara agresif di luar faktor fundamental perusahaan.

"Ada sebuah asumsi yang makin hari makin nyata. It's not about fundamental. Ini perang senyap yang terjadi. Rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dihajar habis-habisan di kala fundamental ekonomi sedang bagus," ungkapnya.

Ketangguhan ekonomi domestik didukung oleh lima data riil berikut:

  • Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, tertinggi sejak tahun 2021.
  • Laju inflasi tahunan terjaga stabil pada posisi 3,08 persen.
  • Posisi cadangan devisa kuat di level US$146,2 miliar.
  • Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terkendali di angka 40,75 persen.
  • Kinerja neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatat surplus sebesar US$5,64 miliar.

Akan tetapi, data makro tersebut sengaja diabaikan oleh para pelaku pasar finansial global untuk menciptakan kepanikan.

"Seluruh data riil ini seharusnya memberikan sentimen positif terhadap pasar. Indonesia diasumsikan, dipersepsikan, dicocoklogikan sebagai tempat investasi terburuk. Sehingga muncul sale, sale, dan sale," urainya.

Gema menambahkan bahwa indikator krisis tidak terlihat pada aktivitas ekonomi riil masyarakat sehari-hari.

"Lihat saja pusat perbelanjaan, mal, atau restoran, masih banyak pengunjungnya. Nanti kita lihat ketika iPhone 18 keluar. Berapa panjang antrean orang Indonesia untuk membeli handphone seharga Rp35 jutaan. Artinya yang krisis itu orang-orang di financial market dan mereka yang menebar ketakutan dan hoaks," tandasnya.

Rangkaian intervensi lembaga keuangan global sepanjang 2026 yang menekan stabilitas pasar modal dirincinya sebagai berikut:

  • Januari 2026: MSCI membekukan indeks Indonesia dengan ancaman penurunan status ke frontier market, menyebabkan hilangnya kapitalisasi pasar sebesar US$120 miliar. Secara simultan, Goldman Sachs memangkas peringkat menjadi underweight, memicu capital outflow hingga US$13 miliar.
  • Penurunan Outlook: Lembaga keuangan Swiss, UBS, mengubah rekomendasi sektor keuangan dari buy ke netral. Langkah ini memicu pelemahan sentimen global terhadap iklim investasi Indonesia.
  • Februari 2026: Moody's menurunkan outlook ekonomi Indonesia menjadi negatif secara tiba-tiba dengan menyoroti masalah fiskal dan Danantara. "Lagi-lagi yang disorot Danantara dan fiskal. Mohon maaf, kelemahan Danantara juga banyak. Misalnya, bagaimana laporan keuangan riilnya," urai Gema.
  • Mei 2026: MSCI menghapus 19 perusahaan dari daftar indeks global miliknya, memicu keluarnya dana pasif sekitar Rp28 triliun hingga Rp31,5 triliun.

Gema membenarkan bursa efek domestik masih memiliki pekerjaan rumah terkait transparansi data free float. Namun, ia mempertanyakan motif di balik penekanan masif yang dilakukan institusi Barat secara serentak.

"Ada tanda tanya besar, kenapa MSCI concern terhadap pasar modal kita pada saat ini. Padahal, persoalan ini sudah terjadi sejak dulu. Nah, yang pegang tombol itu MSCI, Goldman Sachs, Moody's, dan UBS, entitas poros AS atau Barat. Atau entitas poros kapitalis," katanya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww