Mantan Pimpinan KPK Kritik Purnawirawan TNI Pimpin Ditjen Bea Cukai
![]() |
JAKARTA – Keputusan menempatkan figur dari luar jalur karier kepabeanan, khususnya purnawirawan TNI sebagai pucuk pimpinan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai menuai kritik tajam. Mantan pimpinan KPK, Saut Situmorang menilai langkah pergeseran figur tersebut justru memperparah karut-marut di institusi tersebut.
Sebagai institusi yang mengurus teknis lalu lintas barang dan potensi penerimaan negara, Bea Cukai membutuhkan sosok yang benar-benar memahami celah regulasi. Penempatan figur dari latar belakang militer terbukti tidak menjamin hilangnya praktik korupsi di lapangan.
"Sekarang ini kan dipimpin orang luar tuh. Ya kan, yang bekas TNI itu kan. Nah jadi maksud saya begini, pergeseran figur itu membuat dia semakin parah," urai Saut,bMinggu (31/5/2026).
Gagal Selesaikan Akar Masalah
Menurut analisis Saut, masalah utama Bea Cukai bukanlah soal siapa yang paling ditakuti, melainkan soal kemandirian institusi dalam menjalankan undang-undang. Pemimpin dari luar lingkungan kepabeanan sering kali terjebak dalam pusaran permainan calo pelabuhan.
Dampak negatif dari hilangnya kemandirian institusi ini meliputi:
- Bea Cukai kehilangan taring untuk menindak langsung aktor mafia.
- Banyaknya intervensi dari aparat keamanan lain di wilayah pelabuhan.
- Pegawai dan pimpinan tersandera oleh oknum yang membekingi penyelundup.
"Mereka tahu juga siapa calo-calo di situ, siapa yang cawe-cawe di situ, mereka tersandera di situ," jelasnya.
***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Kategori | : | Kampus |







