Dampak Perang Iran dan AS Mulai Berimbas pada Pasokan Makanan Dunia
![]() |
| Tangkapan layar SNN dari sumber IRGC, Jumat (10/4/2026), memperlihatkan peta jalur aman bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz untuk hindari ranjau laut. ((Ist)/SNN/IRGC) |
JAKARTA – Perdagangan energi global menghadapi ujian berat setelah Iran membatasi pergerakan di Selat Hormuz. Otoritas setempat menyatakan telah mengatur perlintasan 26 armada kapal dalam kurun waktu sehari di tengah memanasnya konflik bersama Amerika Serikat dan Israel.
Kantor berita Aljazeera, Rabu (20/5/2026), memberitakan bahwa lalu lintas di salah satu urat nadi pelayaran dunia tersebut kini diawasi ketat oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran.
"Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC," jelas IRGC melalui siaran kantor berita ISNA.
Klaim pengawasan ini diperkuat dengan publikasi peta terbaru oleh Otoritas Selat Teluk Persia Iran. Mereka menetapkan area dari Kuh-e Mubarak ke sekitar Fujairah di timur, serta membentang dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain di wilayah barat sebagai zona maritim di bawah kendali Teheran.
Pembatasan ini memicu balasan dari Amerika Serikat berupa pemblokiran pelabuhan yang menjadi sumber utama ekspor minyak Iran. Aksi saling blokade yang telah berlangsung sejak akhir Februari tersebut tidak hanya mengancam sektor energi, tetapi juga memicu peringatan guncangan agrifood sistemik dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).
"Guncangan ini terjadi secara bertahap, mulai dari energi, pupuk, benih, penurunan hasil panen hingga kenaikan harga pangan," sebut laporan resmi FAO yang bermarkas di Roma.
Lembaga internasional itu memperkirakan krisis pangan global akan melanda berbagai negara dalam rentang waktu enam sampai 12 bulan ke depan.
Di tengah ancaman resesi ekonomi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut proses negosiasi menunjukkan sebuah kemajuan. Meski demikian, Washington siap menarik opsi militer jika Teheran menolak kesepakatan.
Pernyataan itu langsung dijawab oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang memperingatkan adanya kejutan lebih besar dan perluasan eskalasi di Timur Tengah jika tekanan militer kembali digunakan. ***| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tribunnews.com |
| Kategori | : | Kuliner |







