Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
8 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kampus

Rasio Fiskal Indonesia Tertinggal Jauh dari Negara Tetangga Meski Sumber Daya Melimpah

Rasio Fiskal Indonesia Tertinggal Jauh dari Negara Tetangga Meski Sumber Daya Melimpah
Presiden Prabowo Subianto
Rabu, 20 Mei 2026 18:36 WIB

JAKARTA - Kapasitas fiskal nasional dinilai masih tertinggal sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara anggota G20 maupun negara berkembang lainnya. Limpahan kekayaan sumber daya alam nyatanya belum mampu mendongkrak rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto secara optimal akibat tingginya tingkat kebocoran sistemik.

Presiden RI, Prabowo Subianto mengajak seluruh pemangku kebijakan untuk berani mengevaluasi sistem perekonomian agar pendapatan negara kelak bisa sejajar dengan negara-negara tetangga seperti Filipina dan Meksiko.

"Kita harus introspeksi dan sadar, dan berani bertanya kenapa kita tidak bisa mengelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara-negara seperti Filipina, Meksiko," ucap Prabowo di Gedung Parlemen, Senayan, Rabu (20/5/2026).

Posisi letak geografis nusantara yang sangat strategis sebagai jalur persimpangan puluhan persen perdagangan dunia merupakan modal utama yang belum digarap maksimal. Ditambah lagi, Indonesia saat ini tercatat menempati posisi puncak sebagai eksportir terbesar minyak kelapa sawit, batu bara, serta paduan besi (ferro alloy) di pasar global.

Namun, potensi keuntungan raksasa dari komoditas tersebut terkikis oleh lemahnya pengawasan struktural. Praktik manipulasi perdagangan luar negeri seperti under-invoicing dan transfer pricing membuat triliunan rupiah menguap bebas meninggalkan kas negara setiap tahunnya.

Dampak langsung dari buruknya tata kelola ini berimbas pada kualitas hidup masyarakat luas. Pertumbuhan ekonomi sebesar 35 persen yang diklaim terjadi dalam tujuh tahun belakangan tidak mampu menyelamatkan kelas menengah dari keterpurukan ekonomi, bahkan justru memicu naiknya angka kemiskinan.

"Kita harus berani mengatakan yang merah, merah, yang putih, putih. Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita," tambahnya menutup penyampaian pokok-pokok kebijakan fiskal tersebut.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kampus, Pasar & Niaga, Balai Kota, Binawidya
wwwwww