Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
9 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kuliner

Ketiadaan Jalur Diplomatik Tak Surutkan Langkah Penyelamatan Relawan Kemanusiaan

Ketiadaan Jalur Diplomatik Tak Surutkan Langkah Penyelamatan Relawan Kemanusiaan
Menlu Sugiono menegaskan pemerintah tengah memaksimalkan jalur diplomasi di Timur Tengah untuk melacak posisi WNI yang ditangkap Israel. (foto: inilah.com/reyhaanah)
Rabu, 20 Mei 2026 18:27 WIB

JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI, Sugiono memastikan pemerintah terus melacak kondisi sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang dicegat oleh otoritas Israel. Penangkapan para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza ini memicu langkah cepat diplomasi melintasi berbagai negara.

Ketiadaan hubungan resmi antara Jakarta dan Tel Aviv memaksa Kementerian Luar Negeri mengandalkan bantuan dari negara sahabat. Komunikasi intensif kini terjalin erat dengan Yordania, Turki, dan Mesir guna menembus blokade informasi tersebut.

"Saya sendiri sudah menghubungi kedutaan kita atau perwakilan kita untuk berkomunikasi dengan kementerian luar negeri di Jordan, Turki, Mesir untuk pertama mencari informasi yang akurat terkait posisi dan situasi dan keadaan dari saudara-saudara kita yang ditangkap," ujar Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (20/5/2026).

Koordinasi multilateral ini bertujuan menjamin keselamatan, perlakuan baik, serta pemenuhan hak asasi para relawan selama masa penahanan. Fokus utama dari pergerakan diplomasi ini adalah mempercepat proses evakuasi para warga negara.

"Kemudian diproses secepat-cepatnya untuk segera bisa kembali, untuk bisa dideportasi ke Indonesia dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apa pun," jelasnya.

Keberanian para sukarelawan dalam menghadapi risiko geopolitik demi menyampaikan bantuan solidaritas kemanusiaan universal ini mendapat sorotan khusus dan penghormatan.

"Namun kemudian malah mengalami, memang, dan saya yakin mereka juga memahami risiko ini yang mereka ambil. Saya apresiasi courage-nya, keberaniannya, dan kita berharap tujuan untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan ini bisa terus terlaksana lewat berbagai jalur dan berbagai sumber," tambahnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Kuliner, Binawidya
wwwwww