Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Kampus

Keputusan Istana Negara Tuai Kritik, Inayah Wahid Sebut Demokrasi Kembali ke Awal

Keputusan Istana Negara Tuai Kritik, Inayah Wahid Sebut Demokrasi Kembali ke Awal
Aksi Kamisan ke-886 di seberang Istana Merdeka, Jakarta, 13 November 2025.
Minggu, 17 Mei 2026 09:05 WIB
JAKARTA – Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto masih menyisakan perdebatan panjang terkait arah sejarah reformasi bangsa. Putri Presiden keempat RI, Inayah Wulandari Wahid menilai keputusan tersebut mengubur esensi perjuangan melawan rezim Orde Baru.

Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan gelar tersebut melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat, 10 November 2025. Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga memberikan gelar pahlawan kepada Abdurrahman Wahid dan Marsinah.

Menanggapi hal tersebut, Inayah menyatakan bahwa keputusan menobatkan tokoh yang dahulu digulingkan rakyat sama saja dengan mengembalikan Indonesia ke titik sebelum reformasi terjadi.

"Buat saya, reformasi itu mundur pelan-pelan, setapak demi setapak. Dan garis batas terakhirnya itu tahun lalu, 10 November, ketika tokoh yang diturunkan oleh gerakan reformasi karena dianggap tidak demokratis, karena dianggap melawan rakyat, dianggap sebagai pahlawan," ujarnya melalui saluran YouTube Dian Andryanto, Sabtu (16/5/2026).

Kondisi ini memunculkan ironi baru di tengah masyarakat, di mana kelompok penentang rezim Orde Baru justru berada di posisi yang salah secara sejarah.

"Kalau tokoh yang saat itu dianggap sebagai villain kemudian menjadi pahlawan, berarti orang-orang yang berlawanan dengan villain itu yang sekarang jadi villain," terangnya.

Pemberian gelar ini terus mendapat kritik dari kelompok masyarakat sipil karena Orde Baru kerap dikaitkan dengan dugaan pelanggaran HAM dan korupsi. Inayah juga menyayangkan sikap bungkamnya sebagian aktivis reformasi saat ini.

"Dulu banyak dari mereka yang hilang di jalanan pada saat menyuarakan suara rakyat. Sekarang mereka hilang di dalam istana," katanya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:tempo.co
Kategori:Kampus
wwwwww