Ongkos Produksi Membengkak Siap-Siap Banderol Pakaian Jadi Terkerek Naik
![]() |
| Pembuatan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil (Sari Warna) Solo, Jawa Tengah, 17 Juli 2025. (foto: antara) |
JAKARTA - Melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah membawa dampak signifikan bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Banderol minyak yang menembus kisaran US$110 per barel langsung mengerek ongkos bahan baku tekstil hingga menyentuh angka 40 persen.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia, Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa nilai jual paraxylene sebagai material utama pembuatan polyester kini bertengger di posisi US$1.300 per ton. Lonjakan drastis tersebut terjadi cukup cepat hanya dalam rentang waktu dua pekan terakhir.
"Dalam satu pekan ke depan akan terasa di produsen kain, lalu dua pekan berikutnya baru ke sektor pakaian jadi," papar Redma melalui keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Rantai efek kenaikan dari sektor hulu ini perlahan namun pasti akan menjalar ke tingkat hilir. Harga jual produk pakaian di pasar ritel diperkirakan bakal mengalami penyesuaian dengan potensi kenaikan mencapai 10 persen demi menutupi pembengkakan biaya produksi.
Di tengah himpitan ongkos, daya serap pasar justru menunjukkan tren stabil dan mengarah pada peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh harga material impor yang ikut terlampau mahal, sehingga produk buatan lokal mendapat tempat yang jauh lebih kompetitif. Ketersediaan pasokan material dalam negeri seperti rayon dan polyester juga dipastikan berada dalam kondisi aman.
Meski demikian, pemulihan industri padat karya ini masih jauh dari kata ideal. Utilisasi pabrik polyester secara nasional masih terpuruk di bawah 40 persen, sementara pabrik rayon bertahan di angka 70 persen. Banyak produsen yang telanjur gulung tikar akibat gempuran persaingan pasar yang tidak sehat terpantau belum mampu beroperasi kembali.
"Saat ini produsen yang masih bertahan hanya melayani konsumen loyal. Sementara pengguna bahan baku impor belum menjadi prioritas," pungkasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tempo.co |
| Kategori | : | Kampus, Pasar & Niaga |











