Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Kemiskinan Bukan Sekadar Angka, Kisah Pilu Anak Desa di Ngada Jadi Bukti Mental Anak Terabaikan

Kemiskinan Bukan Sekadar Angka, Kisah Pilu Anak Desa di Ngada Jadi Bukti Mental Anak Terabaikan
Ilustrasi (net)
Sabtu, 07 Februari 2026 07:33 WIB

JAKARTA – Kematian YBR (10), seorang bocah asal Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga nekat mengakhiri hidup akibat tak mampu membeli buku dan pena, memicu keprihatinan mendalam. Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa kesehatan mental anak-anak di wilayah pelosok masih menjadi "zona buta" yang jarang tersentuh perhatian pemerintah.

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menekankan bahwa kasus ini mencerminkan betapa rapuhnya dukungan psikologis bagi anak-anak di lingkungan pedesaan. Terisolasi dari akses layanan kesehatan mental membuat mereka sering kali memendam beban emosional sendirian.

"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil sering kali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka. Kurangnya akses layanan membuat mereka merasa tidak memiliki dukungan yang cukup," ujar Bagong, Jumat (6/2/2026).

YBR menjalani hidup yang jauh dari layak. Sejak usia satu tahun, ia tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu sempit berukuran 2x3 meter. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia harus menghadapi kenyataan pahit ditinggal sang ayah yang merantau ke Kalimantan selama satu dekade tanpa kabar, serta tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya.

Kondisi ekonomi yang mencekik tersebut dinilai sebagai pemicu utama stres dan kecemasan yang berujung fatal.

"Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak. Ketika orang tua atau wali kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak merasakan dampaknya secara langsung maupun tidak langsung," tambahnya.

Bagong mendesak agar pemerintah segera membentuk community support system di daerah-daerah terpencil. Kehadiran lembaga sosial lokal dianggap krusial untuk mendeteksi dini tanda-tanda masalah emosional pada anak agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak. Harus ada jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," tegas Bagong.

Kematian YBR menjadi pengingat bahwa di balik masalah kemiskinan, ada luka mental anak-anak yang tersembunyi dan butuh segera disembuhkan sebelum terlambat.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Pasar & Niaga, Kesehatan, Hukum
wwwwww