Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
3 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
6
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Saat Bantuan Dinanti, Bendera Putih Jadi Bahasa Warga Aceh

Saat Bantuan Dinanti, Bendera Putih Jadi Bahasa Warga Aceh
Sebuah bendera putih dikibarkan di sepanjang tepi jalan di daerah yang membutuhkan bantuan setelah banjir bandang di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada 15 Desember 2025. (foto: afp/yasuyoshi chiba)
Sabtu, 20 Desember 2025 10:13 WIB

BANDA ACEH – Sehelai demi sehelai bendera putih berkibar di sepanjang jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan. Di tengah sisa lumpur dan puing banjir bandang, kain putih itu menjadi bahasa sederhana warga Aceh untuk menyampaikan satu pesan: mereka lelah dan membutuhkan pertolongan.

Fenomena tersebut terlihat di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara. Warga mengibarkan bendera putih di pinggir jalan sebagai tanda bahwa mereka tak lagi sanggup menghadapi dampak bencana sendirian.

“Kami sekarang menyerah dan tak sanggup lagi dan butuh bantuan,” ujar Bakhtiar, warga Perlak, Aceh Timur, Minggu (14/12/2025).

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Akses darat di sejumlah daerah terputus, distribusi logistik tersendat, dan sebagian kawasan masih terisolasi hingga memasuki pekan ketiga pascabencana.

Di tengah ramainya perhatian publik terhadap bendera putih, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem menyatakan belum mengetahui secara pasti maksud dari aksi tersebut. Ia mengaku tidak menerima laporan resmi terkait pengibaran bendera putih oleh warga.

“Saya tidak terkopi itu, apa maksud mereka? Yang itu di luar jangkauan kita,” kata Mualem usai menerima bantuan kemanusiaan di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (16/12/2025).

Ia menegaskan bahwa pengibaran bendera putih bukan arahan pemerintah daerah dan mempertanyakan siapa pihak yang menginisiasi aksi tersebut. Mualem juga menekankan bahwa Aceh tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melihat bendera putih sebagai ekspresi kelelahan warga yang terdampak bencana. Namun, ia menyampaikan keyakinan bahwa kondisi ini masih bisa diatasi melalui kerja sama semua pihak.

“Saya percaya Pak Gubernur masih cukup kuat,” ujar Gus Ipul di sela penyerahan bantuan kemanusiaan di Aceh, Selasa (16/12/2025).

Menurutnya, pemerintah daerah telah bekerja maksimal dengan dukungan pemerintah pusat. Ia mengajak semua elemen untuk bergandeng tangan agar penanganan bencana dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan, Aceh menjadi salah satu provinsi dengan dampak terparah. Hingga Rabu (17/12/2025), tercatat 449 orang meninggal dunia dan 21 orang masih dinyatakan hilang. Secara keseluruhan, korban jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 1.059 orang, dengan 192 orang masih dalam pencarian.

Di tengah angka korban dan keterbatasan bantuan, bendera putih yang berkibar di pinggir jalan menjadi simbol sunyi dari warga. Sebuah tanda bahwa di balik statistik bencana, ada manusia yang berharap segera didengar. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tribunnews.com
Kategori:Warga Bertuah, Pasar & Niaga, Balai Kota, Parlemen
wwwwww